KESDM: Koridor Hidrogen Fondasi Penghubung Pusat Pertumbuhan

KESDM: Koridor Hidrogen Fondasi Penghubung Pusat Pertumbuhan
ESDM Sebut Koridor Hidrogen Sambungkan Pusat Produksi & Industri [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menganggap pembangunan koridor hidrogen hijau (Green Hydrogen Corridor) menjadi pijakan utama dalam merancang ekosistem hidrogen yang menjembatani pusat pembuatan energi dengan area industri, pelabuhan, sampai dengan pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM Prahoro Nurtjahyo mengungkapkan keberhasilan sektor industri hidrogen tak cuma bertumpu pada kapasitas produksi semata, melainkan juga bagaimana merancang rantai pasokan yang terpadu dari sektor hulu hingga hilir.

"Green Hydrogen Corridor bukanlah tujuan akhir. Ini melainkan fondasi menuju terbentuknya jaringan koridor hidrogen nasional yang menghubungkan pusat produksi energi bersih dengan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia," katanya di Jakarta, Rabu (22/07/2026).

Ia menerangkan bahwa Green Hydrogen Corridor tidak hanya sebatas mendirikan jaringan pembuatan hidrogen hijau, tetapi juga mewujudkan rantai pasok yang memadukan Green Hydrogen Plant, Hydrogen Refueling Station (HRS), kawasan industri, jaringan logistik, pelabuhan, hingga pemakai akhir ke dalam satu koridor ekonomi rendah emisi karbon.

"Pemerintah memetakan koridor awal sepanjang 194 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Karawang, Patimban sebagai koridor percontohan pengembangan ekosistem hidrogen Indonesia," ucap Prahoro.

Ia membeberkan, pemetaan koridor tersebut dieksekusi lewat penelaahan tata ruang, teknis, ekonomi, dan logistik secara menyeluruh sehingga melahirkan jaringan yang paling efektif dari segi teknis maupun keekonomian.

Dalam eksekusi tahap awal, Kementerian ESDM memetakan 12 lokasi potensial yang mewakili aneka rantai pasok hidrogen yang pengerjaannya dieksekusi secara berjenjang.

Pada fase awal penerapan, Green Hydrogen Corridor mengusung pendirian HRS berkonsep onsite memakai Proton Exchange Membrane (PEM) electrolyser berkapasitas produksi 100 kilogram hidrogen per hari sebagai percontohan penerapan ekosistem hidrogen di tingkat nasional.

Ia mengutarakan beberapa titik koridor telah mulai diwujudkan lewat pembangunan Green Hydrogen Plant dan HRS oleh jajaran mitra kerja.

PLN telah membangun fasilitas Green Hydrogen Plant dan HRS Muara Karang, serta HRS Senayan dan HRS Duren Tiga sebagai titik koridor untuk area Jakarta.

Di sisi lain, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) membangun HRS Karawang sebagai bagian dari uji coba armada kendaraan bertenaga hidrogen.

Sementara itu, pembangunan Greenport Patimban dilaksanakan lewat sinergi bersama Toyota Tsusho dalam bingkai Eastern GX Corridor. Berdasarkan penuturan Prahoro, langkah tersebut memperlihatkan bahwasanya Indonesia sudah menginjak tahap eksekusi ekosistem hidrogen, tidak lagi sebatas pada fase perancangan.

"Kami melihat bahwa Eastern GX Corridor dan Green Hydrogen Corridor memiliki visi yang sama, yaitu membangun ekosistem hidrogen yang mengintegrasikan kawasan industri, transportasi, logistik, dan pelabuhan," ujarnya.

Ia mengimbuhi, pembangunan Greenport Patimban menjadi pelengkap strategis bagi pengerjaan Green Hydrogen Corridor yang dirancang oleh pemerintah.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah meluncurkan Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) sebagai proyek percontohan sekaligus pengembangan Green Hydrogen Corridor atau koridor hidrogen hijau Jakarta–Karawang–Patimban sejauh 194 kilometer (km).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengutarakan bahwa kedua proyek yang diperkenalkan pada Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 tersebut menjadi bagian dari perancangan ekosistem hidrogen demi memperkokoh proses transisi, kemandirian dan swasembada energi, hilirisasi, serta industrialisasi nasional.

“Pengembangan hidrogen selaras dengan arahan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian,” ujar Bahlil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index