JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lebih dari 1,3 juta pelanggan memanfatkan skema diskon tarif 30 persen sepanjang masa libur sekolah, mulai 20 Juni hingga 5 Juli 2026. Program tersebut hadir sebagai stimulus dari pemerintah lewat Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang menjadi salah satu pemicu peningkatan pergerakan masyarakat pada musim liburan.
Selama 16 hari rentang pelaksanaan program, sebanyak 1,3 juta pelanggan menggunakan tiket berdiskon untuk perjalanan kereta api ekonomi komersial.
Sementara secara keseluruhan, KAI melayani 3,4 juta pelanggan, mencakup pengguna kereta bersubsidi lewat skema Public Service Obligation (PSO), kereta kelas bisnis, eksekutif, serta layanan pendukung lainnya.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengutarakan, program potongan tarif sukses memperluas aksesibilitas masyarakat terhadap moda transportasi kereta api tanpa mengurangi kesinambungan pelayanan reguler maupun KA PSO.
"Sebanyak 1,30 juta pelanggan memanfaatkan diskon 30 persen. Di samping itu, KAI tetap menjalankan KA PSO dan layanan lainnya untuk melayani mobilitas masyarakat selama libur sekolah," ujar Anne dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Dari total keseluruhan pelanggan yang terlayani, sekitar 37,8 persen merupakan pengguna program diskon, sedangkan 2,1 juta pelanggan atau 62,2 persen memilih layanan di luar program tersebut.
Program potongan harga berlaku untuk KA Ekonomi Komersial pada 150 perjalanan reguler dan 26 perjalanan tambahan yang ditetapkan pemerintah selama masa liburan. KAI mencatat volume penerima diskon tahun ini melonjak 11,04 persen bila disandingkan dengan masa libur sekolah 2025.
Pada tahun lalu, program serupa dimanfaatkan 1,1 juta pelanggan, sehingga pada 2026 terjadi penambahan sebanyak 129.579 pelanggan. Secara menyeluruh, total volume penumpang KAI turut tumbuh 3,75 persen, dari 3,3 juta pelanggan pada 2025 menjadi 3,4 juta pelanggan pada tahun ini.
Di sisi lain, jumlah penumpang di luar program diskon tergolong stabil.
"Pertambahan pelanggan pada masa libur sekolah terutama terlihat pada kelompok penerima diskon. Program ini membantu masyarakat merencanakan perjalanan dengan biaya yang lebih ringan," kata Anne.
KA Joglosemarkerto menjadi armada yang paling banyak digunakan pelanggan penerima diskon dengan total 67.556 pelanggan, disusul KA Ambarawa Ekspres (67.298 pelanggan), KA Kaligung (55.256 pelanggan), KA Pangrango (49.085 pelanggan), serta KA Kamandaka (48.921 pelanggan).
Menurut Anne, tingginya antusiasme pada sejumlah armada tersebut menandakan bahwa kereta api masih menjadi sarana transportasi favorit untuk perjalanan wisata, silaturahmi keluarga, hingga mobilitas antarkota di masa liburan.
"Peminat diskon banyak menggunakan Joglosemarkerto, Ambarawa Ekspres, Kaligung, Pangrango, dan Kamandaka. Perjalanannya mendukung kebutuhan wisata, kunjungan keluarga, serta mobilitas antarkota," jelasnya.
Menilik dari titik stasiun keberangkatan, Stasiun Pasar Senen menjadi yang paling padat dengan 136.136 pelanggan penerima diskon, disusul Yogyakarta (87.836 pelanggan), Semarang Poncol (69.952 pelanggan), Semarang Tawang (64.451 pelanggan), dan Surabaya Pasarturi (51.887 pelanggan).
Sementara untuk stasiun tujuan, Pasar Senen turut mengantongi angka tertinggi dengan 127.571 pelanggan, diikuti Yogyakarta, Semarang Poncol, Semarang Tawang, serta Surabaya Pasarturi.
Adapun rute perjalanan paling diminati selama program bergulir yaitu Lempuyangan–Pasar Senen, Pasar Senen–Lempuyangan, Surabaya Gubeng–Yogyakarta, Solo Balapan–Semarang Tawang, serta Semarang Tawang–Solo Balapan.
KAI turut mencatat puncak kepadatan terjadi pada Minggu (5/7/2026), sewaktu sebanyak 254.939 pelanggan melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Dari angka tersebut, 94.977 pelanggan merupakan penerima diskon, sementara 159.962 pelanggan memanfaatkan layanan reguler lainnya.
Secara akumulatif, ketercapaian pelanggan penerima diskon menembus 110,95 persen dari kuota program yang disiapkan sebanyak 1,1 juta pelanggan, memperlihatkan tingginya respons masyarakat atas kebijakan tersebut.
"Data perjalanan menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan pelayanan pada masa liburan berikutnya," tegas Anne.