JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan sejumlah pandangan dalam rangkaian acara Pertemuan Menlu ASEAN yang diselenggarakan di Manila, Filipina. Salah satunya yakni forum pertemuan dengan mitra ASEAN bersama negara-negara adidaya seperti China dan Amerika Serikat.
Forum tersebut dilangsungkan pada hari yang sama, Rabu (22/7/2026). Dalam dialog kemitraan ekonomi ASEAN bersama China dan Amerika Serikat, Sugiono memfokuskan pembahasannya pada penguatan ketahanan serta stabilitas kawasan.
Sugiono menggarisbawahi bahwa besarnya skala relasi ASEAN dan China wajib diterjemahkan menjadi kemanfaatan nyata untuk publik, ketangguhan rantai pasok, hingga daya tahan kawasan saat menghadapi berbagai guncangan.
"Ini bukan sekadar angka, di baliknya ada lapangan kerja, pasar, rantai pasok, dan kesejahteraan masyarakat. Tugas kami sekarang adalah mengubah besarnya skala kemitraan ini menjadi ketahanan kawasan,” ujar Menlu Sugiono dalam keterangannya.
Oleh karena itu, pihak Indonesia mendorong optimalisasi ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 guna mengukuhkan integrasi ekonomi yang kian aplikatif, inklusif, serta siap merespons tantangan masa depan.
"Kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari besarnya nilai perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat-pusat pertumbuhan," jelas Menlu Sugiono.
Dalam orasinya tersebut, Sugiono turut mengulas penguatan kerja sama perairan demi menyokong laju perdagangan. Menlu Sugiono menekankan bahwasanya perairan kawasan merupakan urat nadi utama perdagangan, konektivitas masyarakat, hingga ketahanan energi dan pangan.
Dalam kaitan ini, Indonesia kembali mendesak percepatan perumusan Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan yang efektif dan substantif pada tahun ini dengan berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.
"Inilah mengapa code of conduct penting, dan Indonesia mendukung penyelesaian yang efektif dan substantif dalam tahun ini. COC yang kuat akan mengirimkan satu pesan: kawasan kami dapat menjaga stabilitas dan membentuk masa depannya sendiri," ucap Sugiono.
COC yang solid dinilai bakal membuktikan kemampuan negara-negara kawasan dalam merawat stabilitas serta menentukan masa depannya secara mandiri. Maka dari itu, kemitraan ASEAN-China mesti menjadi tak hanya motor penggerak pertumbuhan, melainkan juga pilar penyangga perdamaian kawasan.
Teguran juga disampaikan Sugiono kepada Amerika Serikat dalam forum tersebut. Ia menguraikan pentingnya menjunjung tinggi asas-asas multilateralisme dan hukum internasional secara konsisten sebagai pijakan pencegahan konflik maupun pengelolaan krisis.
Indonesia juga kembali menegaskan dukungannya atas terwujudnya perdamaian yang adil dan berkelanjutan untuk Palestina, seraya mendorong deeskalasi dan penyelesaian damai atas berbagai konflik lewat jalan dialog.
"Upaya kolektif kami menuju perdamaian yang adil dan abadi bagi rakyat Palestina tidak boleh goyah. Kami juga harus terus mendukung deeskalasi dan penyelesaian konflik secara damai di kawasan ini, termasuk dengan mempromosikan dialog yang jujur," katanya.
Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan Sugiono untuk menyampaikan imbauan kepada utusan AS terkait stabilitas kawasan dan dorongan akselerasi pertumbuhan ekonomi.
"Di tengah ketidakpastian global, yang dibutuhkan adalah kemitraan yang saling menguatkan. ASEAN siap menjadi mitra yang konsisten untuk memperkuat keamanan, menjaga stabilitas maritim, dan meningkatkan kesejahteraan bersama," tegas Menlu Sugiono.
Sebagai salah satu investor terbesar sekaligus mitra dagang utama ASEAN, kolaborasi ASEAN–AS harus difokuskan pada kerja sama ekonomi yang berwujud lebih konkret.
"Prioritas kami jelas, yaitu perdagangan yang stabil dan dapat diprediksi, rantai pasok yang kuat, serta akses pasar yang semakin luas, khususnya di sektor komoditas dan manufaktur," jelas Menlu Sugiono.