JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.936 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Pergerakan rupiah tertekan oleh sentimen memanasnya eskalasi geopolitik antara AS dan Iran yang berdampak pada stabilitas pasokan minyak dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memperkirakan dalam perdagangan Jumat (24/7), rupiah akan kembali ditutup melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.930 sampai Rp17.980 per dolar AS," kata Ibrahim, Kamis (23/7/2026).
Ibrahim menjelaskan, eskalasi perang AS-Iran yang kembali memanas berisiko mengganggu pasokan minyak global.
Dalam perkembangan terkini, kelompok Houthi menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka menyasar kapal tanker Saudi ENCELA dan LAYLIA usai menuding pihak tersebut melanggar blokade maritim yang baru saja diumumkan.
Insiden terbaru ini menyusul imbauan awal pekan ini bahwa kelompok tersebut bakal berupaya memblokir akses pelayaran yang terhubung dengan Saudi melewati Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur transit energi tersibuk di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
"Gangguan yang berkelanjutan dapat memaksa kapal tanker untuk mengubah rute di sekitar Afrika selatan, memperpanjang perjalanan dan meningkatkan biaya pengiriman," kata Ibrahim.
Eskalasi inflasi energi global diproyeksikan bakal memengaruhi pertimbangan Bank Sentral AS dalam mengambil arah kebijakan. Ibrahim menyampaikan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan moneter Federal Reserve (Fed) pada pekan depan.
Sementara itu, sentimen yang membayangi rupiah juga bersumber dari dalam negeri. Menurut penilaiannya, pasar merespons pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka peluang untuk memangkas alokasi anggaran pertahanan serta kepolisian.
"Langkah ini bisa saja diambil jika kondisi fiskal dan target defisit anggaran mengalami tekanan. Namun demikian, hingga saat ini belum ada pembicaraan untuk mengalihkan sebagian anggaran pertahanan dan kepolisian," kata Ibrahim.
Adapun Bank Indonesia dalam RGD bulan Juli 2026 memilih mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% demi memelihara stabilitas kurs rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim menilai keputusan ini mampu menggerakkan sektor riil untuk tetap aktif serta memacu penyaluran kredit.
Kebijakan ini juga diproyeksikan untuk menjaga laju inflasi tetap dalam kisaran target pemerintah serta meningkatkan arus investasi portofolio asing yang pada gilirannya menopang penguatan nilai tukar rupiah.