Kenapa Kehidupan Modern Terasa Melelahkan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Kehidupan Modern Terasa Melelahkan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ketidakcocokan Evolusioner Bikin Hidup Modern Terasa Melelahkan [FOTO: NET].

JAKARTA - Kehidupan modern menyuguhkan banyak kemudahan, namun bersamaan dengan itu turut memunculkan tekanan yang hadir tanpa henti. Notifikasi gawai, media sosial, beban pekerjaan, kompetisi, hingga rasa khawatir terkait ekonomi dan masa depan mampu memicu seseorang mengalami stres, cemas, kesepian, maupun kelelahan secara mental.

Sebuah riset mutakhir menyebutkan bahwa fenomena tersebut boleh jadi bersumber dari apa yang dinamakan sebagai evolutionary mismatch atau ketidakcocokan evolusioner. 

Konsep ini memaparkan adanya jurang pemisah antara ekosistem tempat manusia berproses secara evolusi selama ratusan ribu tahun lampau dengan realitas kehidupan modern yang dihadapi masa kini.

Otak manusia berevolusi dalam kelompok kecil

Merujuk laporan NDTV (22/7/2026), kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioural Sciences menguraikan bahwa struktur otak manusia terbentuk dalam lingkungan yang jauh berbeda dari tatanan kehidupan sekarang.

Selama rentang sejarah terpanjangnya, manusia hidup berdampingan di tengah kelompok-kelompok kecil yang erat bersama orang-orang dikenal, serta menghadapi risiko ancaman yang jauh lebih nyata dan mudah dikenali.

Sebaliknya, kehidupan modern justru menghubungkan seseorang dengan jumlah individu yang jauh lebih masif, termasuk melalui medium digital. 

Wilayah perkotaan yang padat, jaringan daring yang menyala tanpa jeda, platform media sosial, serta kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dengan orang lain melahirkan situasi yang dinilai tidak selaras sepenuhnya dengan habitat asli yang selama ini dihadapi manusia sepanjang garis evolusinya.

Kondisi tersebut dipandang mampu memberi kejelasan mengenai alasan di balik sebagian orang yang mendapati diri mereka terperangkap dalam kecemasan, rasa kesepian, serta stres berkepanjangan. 

Para peneliti berpandangan bahwa berbagai perasaan tersebut tidak melulu harus dipandang sebagai problem privat, sebab lingkungan tempat seseorang bermukim turut memegang kendali dalam membentuk kesehatan mentalnya.

Media sosial bikin persaingan terasa tak pernah berhenti

Merujuk laporan HuffPost (21/7/2026), salah satu dimensi dari konsep evolutionary mismatch mencakup dinamika persaingan serta perbandingan sosial yang semakin mudah meletup melalui ranah digital.

Para periset dalam studi tersebut mengemukakan bahwa masyarakat masa kini jauh lebih rentan dibayangi perasaan dihakimi atau tertinggal karena senantiasa mengamati potongan kehidupan orang lain lewat layar gawai.

Dr. Jose Yong, salah satu pengarang studi sekaligus dosen senior, menuturkan bahwa iklim kompetisi sebenarnya bukanlah fenomena baru.

"Persaingan bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kehidupan modern dapat membuatnya terasa terus-menerus," ujar dr. Yong.

Berdasarkan pandangannya, kacamata evolusioner sanggup membantu menerangkan alasan manusia menunjukkan reaksi begitu masif terhadap fenomena perbandingan serta ketakutan tertinggal (FOMO), sekalipun pemicu tekanan itu bersumber dari orang asing ataupun sekadar kilatan layar perangkat.

Dengan kata lain, tekanan untuk menyamai pencapaian orang lain yang tersaji di media sosial terasa jauh lebih konsisten ketimbang bentuk-bentuk kompetisi dalam struktur kelompok sosial yang lebih terbatas.

Kehidupan modern menghadirkan banyak tekanan sekaligus

Persoalan serupa ternyata tidak semata bersumber dari penggunaan media sosial. Riset tersebut menyoroti realitas yang dinamakan sebagai "polikrisis", yakni kondisi ketika berbagai macam tekanan menghantam secara serentak.

Faktor perubahan iklim, gejolak ketidakpastian ekonomi, terjangan pandemi, hingga laju perkembangan teknologi yang bergerak super cepat termasuk kecerdasan buatan, berpotensi memantik tumpukan tekanan yang saling memperkuat.

Keadaan ini dinilai sanggup melipatgandakan rasa tidak aman serta iklim persaingan, sekaligus mendongkrak kerentanan seseorang terhadap risiko kelelahan mental atau burnout.

Psikolog lingkungan Sarah Chan, yang juga bertindak sebagai salah satu penulis riset, menyampaikan bahwa stres, rasa kesepian, serta kecemasan kerap kali diidentifikasi semata-mata sebagai problem pribadi atau pilihan gaya hidup.

"Namun, hal itu juga dapat mencerminkan ketidakcocokan antara lingkungan tempat manusia hidup dan kondisi yang sejak awal berkembang untuk dihadapi oleh pikiran dan tubuh kami," kata Chan.

Bukan berarti harus kembali ke kehidupan masa lalu

Kendati demikian, studi tersebut sama sekali tidak menarik garis kesimpulan bahwa kehidupan modern wajib ditinggalkan ataupun umat manusia harus mundur kembali ke zaman purba. 

Telaah ini diposisikan sebagai tinjauan konseptual atas beragam literatur riset terdahulu dan belum menjadi vonis mutlak perihal fenomena evolutionary mismatch.

Sebaliknya, para peneliti justru meyakini bahwa pemahaman mendalam atas ketidakcocokan ini dapat menjadi landasan untuk membangun kembali ruang hidup yang jauh lebih selaras dengan insting psikologis manusia.

"Kami perlu merancang intervensi yang bekerja selaras dengan sifat alami manusia yang terbentuk melalui evolusi, bukan melawannya," kata dr. Yong.

Para periset turut menekankan pentingnya aspek perencanaan tata kota serta komunitas warga. Berdasarkan kajian itu, tingkat kepadatan suatu wilayah perkotaan tidak selamanya menjadi satu-satunya variabel penentu munculnya rasa sesak maupun tekanan psikologis.

Pola perancangan sebuah kota beserta komunitas di dalamnya ternyata turut andil membentuk pengalaman hidup setiap individu yang bernaung di wilayah tersebut.

Melalui pemahaman atas sisi-sisi kehidupan modern yang berpotensi melenceng dari kebutuhan kodrati manusia, para periset berharap para pembuat kebijakan, akademisi, serta perancang tata ruang dapat menemukan formulasi ideal guna menghadirkan ruang hidup yang lebih berpihak pada kesejahteraan mental masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index