JAKARTA — Harga minyak mentah dunia melandai hingga 5% pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (27/7/2026). Penurunan harga tersebut bertepatan dengan keputusan Amerika Serikat (AS) yang menghentikan gelombang serangannya ke wilayah Iran.
Merujuk pada laporan CNBC International, tensi pertempuran yang berangsur surut ini turut mengikis ketakutan publik atas potensi eskalasi konflik yang sempat memanas dalam kurun hampir dua pekan belakangan.
Mengacu pada data pasar, harga minyak mentah varian Brent internasional untuk kontrak pengiriman September tergerus 4,88% ke level sekitar $92 per barel.
Di lain pihak, patokan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September merosot lebih dari 5% menuju posisi $84,84 per barel.
Pihak Iran sebelumnya memberi sinyal akan menyetop aksi gempuran selama AS turut menahan diri dari tindakan militer.
Mengutip siaran televisi CBS, sinyal moratorium serangan tersebut diambil guna menjaga suasana kondusif bagi kelanjutan negosiasi diplomatik langsung antara Teheran dan Oman.
Pemerintah Iran dan Oman sendiri telah menggelar beberapa kali forum dialog di tingkat wakil menteri luar negeri yang bertempat di Teheran pada rentang 24–25 Juli 2026.
Pihak Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa dalam agenda perundingan tersebut, kedua belah pihak merumuskan kerangka umum serta formula praktis untuk mengelola lalu lintas navigasi yang aman di kawasan Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Iran melengkapi bahwa capaian progresif dalam negosiasi jalur Selat Hormuz telah dikantongi, sekalipun kondisi di lorong maritim tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan.
Melansir dari berbagai sumber, laporan Axios pada Sabtu (25/7/2026) membeberkan bahwa jajaran militer AS tetap mematangkan opsi darurat guna menggelar kembali operasi militer masif ke Iran, walaupun Presiden Donald Trump belum memunculkan instruksi resmi terkait hal tersebut.
Berdasarkan keterangan narasumber tepercaya, Presiden AS Donald Trump memberikan instruksi penundaan gempuran susulan pada Jumat (24/7/2026), demi menyudahi aksi penyerangan yang telah beruntun berlangsung selama 13 hari.
Mengutip siaran CNN International, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengutarakan dalam rangkaian sesi wawancara bahwa Presiden Donald Trump memberikan 'ruang' bagi prospek negosiasi untuk berkembang, menyusul menguatnya pergerakan jalur diplomasi beberapa hari terakhir.
Di sisi berseberangan, kubu Iran memaknai jeda aksi militer AS ini sebagai sebuah pencapaian positif. Salah satu otoritas pejabat Iran bahkan menyebut bahwasanya jeda gempuran itu mengindikasikan AS sedang mengalami titik jenuh dalam mekanisme pengambilan keputusan strategis.