Aktivitas Luar Ruangan Terbaik untuk Anak Menurut 3 Psikolog

Aktivitas Luar Ruangan Terbaik untuk Anak Menurut 3 Psikolog
Ini Aktivitas Luar Ruangan Terbaik untuk Tumbuh Tumbuh Anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Mengajak buah hati beraktivitas di luar rumah sering kali dipandang sebatas langkah praktis guna mengurangi adiksi layar gawai. Kendati demikian, faedah kegiatan luar ruangan nyatanya melampaui sekadar pembatasan screen time

Tiga psikolog anak sependapat bahwa eksplorasi berbasis alam (nature-based exploration) merupakan salah satu kegiatan luar rumah terbaik guna menyokong tumbuh kembang anak.

Menariknya, agenda ini tak perlu dirancang secara rumit oleh orang tua. Anak cukup diberi keleluasaan untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara lebih bebas. 

Mengutip Parade (26/7/2026), psikolog terdaftar dr. Caitlin Slavens mengungkapkan bahwa berada di area terbuka memberi anak ruang bergerak, berpetualang, serta meresapi lingkungan sekitar melalui seluruh pancaindra mereka.

"Berada di luar ruangan memberi anak apa yang paling mereka butuhkan, yaitu ruang untuk bergerak, ruang untuk mengeksplorasi tanpa terlalu banyak batasan seperti di dalam rumah, serta kesempatan untuk mengalami dunia dengan seluruh indera mereka," kata dr. Slavens.

Eksplorasi alam membantu anak belajar mandiri

Menurut psikolog klinis berlisensi dr. Holly Schiff, eksplorasi alam yang dilakukan secara independen menghadirkan beragam faedah bagi perkembangan anak. Anak dapat melatih diri mengelola rasa frustrasi, mengukur risiko sesuai kapabilitasnya, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.

Sementara itu, dr. Michael Roeske, Direktur Senior Newport Healthcare Center for Research and Innovation, menyampaikan bahwa aktivitas seperti memanjat, menjelajah, berimajinasi, atau sekadar mengamati lingkungan sekitar dapat membantu anak mengasah bermacam keterampilan penting.

"Baik ketika anak memanjat, mengeksplorasi, berimajinasi, maupun sekadar mengamati dunia di sekitarnya, mereka sedang membangun keterampilan perkembangan yang penting, sekaligus merasakan efek alam yang menenangkan," ujar dr. Roeske.

Eksplorasi alam pun tak memiliki satu acuan baku yang wajib diikuti semua anak. Mereka dapat berjalan-jalan di taman, mengamati batuan dan dedaunan, bermain di tepi sungai, berkebun, hingga merangkai tempat bermain sederhana dari materi yang dijumpai di alam. 

Menurut Schiff, tidak ada satu metode mutlak yang paling benar untuk berinteraksi dengan alam; anak bebas mengeksplorasi sesuai fase perkembangannya masing-masing.

Aktivitas luar ruangan bisa disesuaikan dengan usia anak

Meski sama-sama memerlukan alokasi waktu di luar rumah, kebutuhan serta cara anak menikmati alam tentu selaras dengan kelompok usianya. Untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, orang tua dapat memulai dari aktivitas sederhana yang menstimulasi pancaindra.

Slavens menyarankan orang tua mengajak anak mencermati apa yang mereka lihat, dengar, raba, atau cium sewaktu berada di luar ruangan. 

Anak pada rentang usia ini tak membutuhkan agenda yang terlampau terstruktur. Orang tua dapat membiarkan mereka mengeksplorasi lingkungan sembari mengikuti rasa ingin tahu yang timbul secara alami.

Sementara itu, anak usia 6 hingga 11 tahun umumnya mulai tertarik pada kegiatan yang memiliki tujuan atau tantangan tersendiri. Schiff menyarankan aktivitas seperti perburuan benda alam, berjalan kaki, mengamati burung, berkebun, atau merangkai benteng sederhana. 

Orang tua pun bisa memberikan tanggung jawab kecil, seperti meminta anak memegang peta atau berpartisipasi menentukan rute perjalanan. Skema ini dapat membuat anak merasa lebih dilibatkan sekaligus mengasah kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian.

Untuk anak usia 12 tahun ke atas, aktivitas luar rumah sebaiknya diselaraskan dengan minat serta kebutuhan mereka akan otonomi yang lebih besar. 

Roeske menyarankan kegiatan seperti fotografi, olahraga, mendaki, atau sekadar berkumpul bersama kawan di luar rumah. 

Menurutnya, orang tua sebaiknya tidak menjadikan kegiatan luar ruangan sebagai bentuk hukuman atau sekadar ajang "detoks gawai". Sebaliknya, anak perlu diajak memandang waktu di luar rumah sebagai kesempatan untuk beristirahat dan melepaskan tekanan sekolah maupun dinamika sosial.

Bagaimana jika anak tidak mau bermain di luar?

Mengajak anak keluar dari rumah kerap tidak mudah, utamanya jika mereka sudah terbiasa menghabiskan mayoritas waktu di dalam ruangan. 

Pada situasi ini, psikolog menyarankan orang tua untuk tidak memaksakan pergeseran secara drastis. Slavens menganjurkan untuk memulainya dari durasi yang singkat, misalnya lima hingga 10 menit.

"Kadang-kadang, bagian tersulit hanyalah keluar rumah. Setelah berada di luar, mereka justru menikmatinya," kata dr. Slavens.

Orang tua juga dapat mengaitkan aktivitas luar rumah dengan kegemaran anak. Anak yang hobi menggambar dapat diajak berkreasi menggunakan kapur di trotoar atau menjajal fotografi alam.

 Sedangkan anak yang tertarik pada teknologi bisa diajak mengenali aneka tanaman melalui aplikasi khusus.

Di samping itu, anak sebaiknya tetap diberi kebebasan memilih kegiatan yang ingin dilakukannya. Slavens menandaskan bahwa memberikan pilihan dan kendali sanggup meredam penolakan anak. 

Dengan demikian, waktu di luar rumah tetap menjadi bagian dari rutinitas harian, tetapi anak memegang kendali untuk menentukan bagaimana mereka ingin menikmatinya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index