Penyaluran Kredit Properti 2025 Tumbuh Signifikan Dorong Sektor Konstruksi

Senin, 26 Januari 2026 | 12:16:55 WIB
Penyaluran Kredit Properti 2025 Tumbuh Signifikan Dorong Sektor Konstruksi

JAKARTA - Penyaluran kredit ke sektor properti pada 2025 mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 13,0% year on year (yoy), mencapai Rp 1.597,7 triliun. Lonjakan ini didorong terutama oleh kenaikan kredit ke segmen konstruksi yang meningkat tajam.

Berdasarkan data Uang Beredar (M2) Bank Indonesia (BI) yang dikutip pada Minggu, 25 Januari 2026, kredit untuk KPR dan KPA tumbuh moderat 6,8% yoy menjadi Rp 850,5 triliun. Sementara itu, kredit real estate meningkat 8,6% yoy menjadi Rp 253,2 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang stabil di pasar properti.

Namun, yang paling mencolok adalah kredit properti ke segmen konstruksi yang melonjak 28,2% yoy menjadi Rp 504,0 triliun pada Desember 2025. Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bagi sektor konstruksi, yang dalam beberapa tahun terakhir sempat stagnan atau bahkan menurun.

Pada 2024, penyaluran kredit konstruksi hanya tumbuh 0,0% yoy, sementara pada 2023 tercatat menurun 0,2% yoy. Lonjakan 28,2% pada 2025 menandai pemulihan yang kuat sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor dan pengembang di sektor konstruksi.

Prospek Cerah Properti di Tahun 2026

Sektor properti diprediksi memiliki prospek cerah pada 2026 dengan sejumlah faktor pendukung. Penurunan suku bunga kredit, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menjadi pendorong utama pemulihan daya beli masyarakat.

Property Outlook Survey oleh Knight Frank Indonesia, dikutip pada Minggu, 25 Januari 2026, menyebut bahwa sektor properti diperkirakan tetap tumbuh sepanjang 2026. Meskipun demikian, sebagian besar pemangku kepentingan (61%) memproyeksikan pertumbuhan investasi properti hanya akan moderat.

Para pemangku kepentingan, termasuk konsultan properti, pengembang, bankir, akademisi, pegawai negeri sipil, dan investor, menyoroti subsektor industri dan pergudangan sebagai yang akan terus meningkat. Tren pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan logistik dan penyimpanan akibat pertumbuhan e-commerce.

Selain itu, pengembang melihat peluang pada subsektor hotel dan apartemen sewa. Sektor ini dinilai memiliki daya ungkit terhadap pertumbuhan properti, bersama dengan industri gaya hidup, energi terbarukan, pariwisata, serta makanan dan minuman (food and beverage).

Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski prospek positif terlihat jelas, pemangku kepentingan juga memperingatkan sejumlah risiko dan tantangan di 2026. Pelemahan daya beli masyarakat, harga tanah yang tinggi, serta tekanan inflasi diperkirakan akan tetap mengganggu pertumbuhan sektor properti.

Selain itu, kenaikan biaya bahan konstruksi dan ketidakpastian pasar global menjadi faktor yang dapat mempengaruhi rencana pengembang. Kesiapan pengembang dalam menghadapi risiko ini akan menentukan keberhasilan proyek properti di tahun depan.

Pertumbuhan kredit yang kuat pada 2025 menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Kredit konstruksi yang melonjak menunjukkan adanya kepercayaan pasar dan potensi pengembangan proyek baru di berbagai wilayah Indonesia.

Faktor pendukung seperti insentif PPN DTP juga diharapkan terus mendorong permintaan rumah tapak dan rumah susun. Hal ini sekaligus menstimulasi sektor properti residensial yang selama ini menjadi pilar utama pertumbuhan industri properti.

Tren Pertumbuhan Kredit Properti 2023–2025

Tren pertumbuhan kredit properti selama tiga tahun terakhir menunjukkan dinamika yang menarik. Pada 2023, penyaluran kredit meningkat 7,6% yoy, kemudian melambat menjadi 6,6% yoy pada 2024, sebelum akhirnya melonjak menjadi 13,0% yoy pada 2025.

Kenaikan ini terutama ditopang oleh segmen konstruksi yang sebelumnya stagnan. Lonjakan kredit konstruksi menjadi sinyal pemulihan kuat yang berpotensi mendorong pertumbuhan sektor properti secara keseluruhan.

Dengan adanya pertumbuhan kredit konstruksi dan dukungan kebijakan pemerintah, sektor properti diperkirakan tetap stabil sepanjang 2026. Tren ini akan memberikan dampak positif pada industri terkait, termasuk jasa konstruksi, logistik, dan penyedia bahan bangunan.

Selain itu, subsektor hotel, apartemen sewa, dan pergudangan diprediksi menjadi penggerak utama pertumbuhan investasi properti. Peningkatan aktivitas di sektor-sektor ini akan mendukung penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi di kota-kota besar.

Meski prediksi moderat, sektor properti tetap menjadi indikator kesehatan ekonomi. Lonjakan kredit konstruksi dan pertumbuhan real estate menunjukkan adanya optimisme dari pengembang dan investor untuk mengembangkan proyek baru.

Dengan dukungan suku bunga rendah, insentif fiskal, dan permintaan rumah yang stabil, sektor properti diperkirakan tetap menjadi sektor yang menarik untuk investasi. Hal ini sekaligus menandai pemulihan daya beli masyarakat pasca dinamika pasar 2025.

Pertumbuhan kredit properti yang solid di 2025 juga menjadi tolok ukur kesiapan sektor keuangan dalam mendukung proyek-proyek besar. Bank dan institusi finansial menunjukkan kemampuan untuk menyalurkan kredit secara tepat dan efisien, khususnya untuk proyek konstruksi.

Dengan perencanaan yang matang, pengembang dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas portofolio proyek residensial maupun komersial. Optimisme ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah sekaligus memperkuat sektor properti domestik.

Secara keseluruhan, lonjakan kredit properti ke sektor konstruksi menjadi indikator positif. Tren ini menegaskan bahwa sektor properti siap menyambut prospek pertumbuhan moderat namun stabil pada 2026.

Terkini