JAKARTA — Dokter konselor laktasi dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC memaparkan sejumlah faktor yang sanggup memicu terjadinya mastitis atau peradangan jaringan payudara secara berulang pada ibu yang tengah menyusui.
"Jadi mastitis bisa berulang itu salah satu penyebabnya karena pengosongan isi payudara yang tidak sempurna," katanya dalam acara diskusi daring yang diikuti dari Jakarta pada Selasa.
Anastasia menerangkan, pengosongan payudara yang tidak optimal dapat dipicu oleh posisi pelekatan bayi yang kurang tepat sewaktu menyusu. Kondisi ini berisiko membuat area payudara terluka sekaligus menjadi pintu masuk bagi bakteri penyebab timbulnya infeksi.
Dokter alumni Universitas Atma Jaya tersebut membeberkan bahwa pembengkakan pada jaringan payudara juga dapat terjadi lantaran ritme pengosongan ASI yang tidak konsisten.
"Jadi, yang awalnya seharusnya tiap 2 sampai 3 jam, tiba-tiba terlewat satu sesi menyusuinya. Jadi lebih jauh jedanya, 4 sampai 6 jam begitu, dia (ASI) akan menumpuk dan menyebabkan bengkak," katanya.
Di samping itu, menurut dr. Anastasia, melemahnya daya tahan tubuh turut memperbesar risiko ibu menyusui terserang infeksi payudara.
Dokter yang membuka praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah tersebut menyebutkan bahwa mastitis tergolong sebagai kendala yang kerap dialami oleh ibu muda.
Kondisi mastitis terbilang rawan terjadi dalam kurun satu hingga dua bulan pertama pascamelahirkan, yang mana pada fase tersebut ibu dan bayi masih berada dalam masa adaptasi untuk mempelajari teknik serta posisi menyusui yang benar.
Dokter Anastasia menyampaikan bahwasanya air susu ibu umumnya baru diproduksi dan keluar secara alamiah pada hari keempat atau kelima pascapersalinan.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan agar ibu beserta keluarga tidak perlu merasa cemas apabila ASI belum menetes atau baru keluar sedikit pada hari pertama hingga ketiga seusai melahirkan, mengingat bayi masih menyimpan cadangan nutrisi.
Demi menekan potensi munculnya mastitis sewaktu menyusui, para ibu dapat membekali diri dengan mengikuti kelas prenatal di poliklinik laktasi sewaktu usia kehamilan menginjak 36 minggu.
Lewat kelas edukasi tersebut, para calon ibu dapat mendalami tata cara menyusui bayi secara tepat.
"Kami bekali dulu dengan ilmu laktasinya, praktiknya sambil didampingi. Itu pasti membantu banget untuk mengurangi risiko masalah-masalah kedepannya," kata dr. Anastasia.
Ia pun menggarisbawahi krusialnya sokongan dari keluarga maupun lingkaran terdekat bagi ibu yang sedang berada dalam masa menyusui.
Dokter Anastasia menguraikan bahwa gejala mastitis pada ibu menyusui dapat dikenali melalui pembengkakan dan ruam kemerahan di salah satu bagian payudara, timbulnya rasa nyeri kala menyusui, hingga serangan demam, meriang, serta badan menggigil.
Ibu menyusui yang mendapati indikasi tersebut dapat mengupayakan penanganan awal secara mandiri di rumah melalui konsumsi obat pereda nyeri dan memberikan kompres dingin pada area payudara.
Kendati demikian, dr. Anastasia menyarankan ibu menyusui agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan guna penanganan medis lanjutan apabila kondisi tidak kunjung membaik dalam jangka waktu dua hari.
"Kalau 24 sampai 48 jam setelahnya tidak membaik, malah terjadi benjolan yang lebih besar, yang jika ditekan kok seperti ada cairan, dan lebih nyeri lagi, kami baru curiga ke arah abses," katanya.
"Kalau sudah terjadi abses, ada dua kemungkinan. Dengan antibiotik diganti, adakah perubahan, perbaikan? Kalau tidak ada, ada kemungkinan harus dirujuk ke spesialis bedah di-ultrasound, USG," ia menambahkan.