JAKARTA — Setiap individu memiliki sudut pandang berbeda dalam mengarungi kehidupan. Ada yang menempatkan keluarga di pilar utama, ada yang berfokus mengejar pencapaian karier, sementara yang lainnya lebih terpacu memperjuangkan keadilan maupun mengasah potensi diri.
Perbedaan tersebut rupanya tak sekadar dipengaruhi oleh tipe kepribadian, melainkan juga oleh nilai-nilai dasar yang diyakini seseorang (core values).
Dalam disiplin psikologi, nilai dipahami sebagai keyakinan mendasar mengenai hal yang dianggap krusial dan bermakna dalam hidup.
Mengutip Psychology Today, John A. Johnson Ph.D., menerangkan bahwa nilai tergolong sebagai salah satu aspek kepribadian yang paling konsisten sepanjang hayat. Nilai inilah yang memandu langkah seseorang kala mengambil keputusan, merumuskan tujuan, hingga merajut hubungan dengan orang lain.
"Ketika seseorang berhasil mencapai tujuan yang sesuai dengan nilai yang diyakininya, hidup cenderung terasa lebih bermakna dan memuaskan," tulis Johnson.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 2025. Studi yang digarap oleh Wilkowski, DiMariano, dan Peck berupaya menyatukan beragam teori seputar nilai-nilai manusia yang berkembang dalam psikologi.
Para peneliti mengkaji ratusan konsep nilai dari bermacam model psikologi, lalu menganalisisnya memanfaatkan metode statistik. Alhasil, mereka mendapati lima dimensi utama yang dinilai sanggup menguraikan sebagian besar nilai yang diampu manusia.
Berikut lima nilai inti yang sanggup membentuk cara seseorang mengarungi kehidupannya:
Hal yang membentuk cara kami menjalani hidup
1. Pengembangan diri (individual mastery)
Nilai ini berorientasi pada hasrat untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Individu yang mendahulukan pengembangan diri biasanya didorong oleh motivasi intrinsik, yakni berhasrat untuk bertumbuh karena keinginan pribadi, bukan semata demi meraih pengakuan atau pujian dari pihak luar.
Mereka cenderung menikmati proses menimba ilmu, mengasah keahlian, dan menetapkan target pribadi sebagai wujud aktualisasi diri.
2. Status sosial (social rank)
Sebagian orang menempatkan raihan prestasi, pengaruh, atau kemapanan finansial sebagai prioritas utama. Nilai ini berkaitan erat dengan keinginan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dalam tatanan sosial, termasuk membangun rekam jejak, karier, hingga stabilitas ekonomi.
Berdasarkan riset, individu yang menempatkan status sosial sebagai prioritas umumnya memiliki tingkat ekstroversi yang lebih tinggi sehingga lebih percaya diri bersaing dan tampil di hadapan publik.
3. Keadilan universal (universal justice)
Nilai ini mencerminkan kepedulian terhadap kesetaraan, keadilan, serta kesejahteraan masyarakat luas, tidak terbatas pada lingkaran terdekat saja.
Seseorang yang memegang nilai ini umumnya lebih tergerak untuk mengulurkan bantuan, peka terhadap isu sosial, serta berhasrat memberi dampak positif bagi khalayak.
4. Tradisi dan keteraturan (cultural conventionality)
Di samping itu, ada pula pihak yang menganggap pemeliharaan tradisi, norma, serta stabilitas sosial sebagai hal yang amat vital.
Mereka cenderung menghormati aturan yang berlaku, melestarikan kebiasaan turun-temurun, serta meyakini bahwasanya keteraturan merupakan fondasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai ini tidak selalu diartikan sebagai penolakan terhadap perubahan, melainkan lebih menekankan pentingnya kesinambungan dan rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Hubungan interpersonal (interpersonal relatedness)
Bagi sebagian orang, ikatan yang hangat bersama pasangan, keluarga, maupun sahabat merupakan prioritas tertinggi dalam hidup.
Mereka cenderung mengalokasikan waktu serta energi untuk merawat kedekatan emosional, menjaga jalur komunikasi, dan mengulurkan dukungan bagi orang-orang terdekat. Penelitian membuktikan bahwa hubungan interpersonal yang sehat berbanding lurus dengan kesejahteraan psikologis dan kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Mengenali nilai hidup membantu menentukan prioritas
Menurut Johnson, tidak ada satu pun nilai yang dianggap lebih unggul dibanding nilai lainnya. Setiap orang memegang kombinasi nilai yang unik sesuai rentetan pengalaman, lingkungan, serta tujuan hidupnya.
Ia memaparkan bahwasanya manusia tidak mungkin mengejar seluruh hal secara bersamaan. Alokasi waktu dan energi yang digunakan untuk meniti karier, contohnya, dapat mengikis porsi waktu bersama keluarga. Sebaliknya, konsentrasi pada hubungan interpersonal mungkin membuat seseorang memilih untuk tidak mengejar jabatan tertentu.
Maka dari itu, memahami nilai yang paling esensial bagi diri sendiri dapat mendampingi seseorang dalam mengambil keputusan yang lebih selaras dengan tujuan hidup, sekaligus menekan potensi penyesalan akibat melangkah di jalan yang bertolak belakang dengan keyakinannya.
Pada akhirnya, memahami nilai inti bukan bertolak untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan untuk mencerna apa yang benar-benar bernilai sehingga setiap keputusan yang diambil terasa lebih autentik serta memuaskan.