JAKARTA — Gaya orangtua berkomunikasi dengan anak tak sekadar memengaruhi suasana hati sesaat, melainkan turut membentuk cara anak memandang dirinya sendiri serta membangun ikatan dengan orangtuanya.
Dalam keseharian, cukup banyak orangtua yang spontan mengucapkan kalimat tertentu saat dilanda lelah, kesal, atau ingin anak segera patuh.
Walau terkesan sepele, beberapa bentuk ungkapan justru bisa membuat anak merasa tidak dipahami, kurang dihargai, hingga merasa tak aman dalam meluapkan emosinya.
Psikolog klinis Dr. Shefali Tsabary menerangkan bahwa untaian kata memiliki kekuatan besar yang mampu membekas mendalam pada diri seorang anak. Maka dari itu, orangtua dituntut lebih cermat memilih tutur kata agar jalinan hubungan dengan anak tetap hangat dan suportif.
Berikut tiga ungkapan yang sebaiknya dihindari orangtua kala berbicara dengan anak:
1. "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"
Tindakan membandingkan anak dengan saudara kandung maupun anak lain kerap bermaksud memberikan motivasi. Namun, langkah ini justru berisiko memicu perasaan pada diri anak bahwa ia tidak cukup baik.
Menurut Dr. Shefali, kebiasaan membanding-bandingkan anak berpotensi memicu timbulnya rasa rendah diri sekaligus menciptakan persaingan yang kurang sehat antarsaudara.
Maka dari itu, orangtua disarankan untuk menghormati keunikan tiap anak mengingat masing-masing figur memiliki karakter, kapasitas, serta ritme belajar yang tak sama.
Pandangan ini diperkuat oleh studi dari Pennsylvania State University yang membuktikan bahwa saudara kandung yang dibesarkan dalam keluarga yang sama tetap memiliki kepribadian dan arah perkembangan yang berbeda. Oleh sebab itu, membandingkan mereka bukanlah strategi yang efektif.
Ketimbang berucap, "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?", orangtua dapat mencoba berujar, "Ayo kami cari cara supaya kamu bisa berkembang sesuai kemampuanmu."
2. "Karena Ayah atau Ibu bilang begitu"
Kalimat ini kerap diandalkan guna menyudahi perbedaan pendapat dengan anak.
Akan tetapi, menurut Dr. Shefali, kalimat tersebut sanggup memutuskan komunikasi lantaran anak tak memperoleh pemahaman logis di balik sebuah aturan atau keputusan.
Menyampaikan penjelasan sederhana sesuai tingkatan usia anak justru mampu membantu mereka belajar memahami batasan sekaligus menumbuhkan rasa percaya kepada orangtua.
Hal ini bukan berarti orangtua wajib menguraikan segala hal secara bertele-tele.
Penjelasan ringkas seperti, "Kamu harus tidur lebih awal supaya tubuhmu bisa beristirahat dan besok tetap segar," dapat membantu anak mencerna alasan di balik batasan tersebut.
3. "Berhenti menangis"
Saat mendapati anak menangis, sebagian orangtua acap kali secara refleks meminta mereka untuk menghentikan tangisannya demi menenangkan situasi dengan cepat. Padahal, ungkapan ini dapat membuat anak merasa emosinya ditolak.
Menurut Children's Hospital of Philadelphia, mengabaikan atau meredam emosi anak tidak membantu mereka belajar mengelola perasaan. Sebaliknya, anak memerlukan bimbingan untuk mengenali, memahami, serta mengekspresikan emosinya secara sehat.
Dr. Shefali mengimbau agar orangtua terlebih dahulu mengabsahkan perasaan anak. Umpamanya dengan menyampaikan, "Ibu tahu kamu sedang sedih," atau "Ayah mengerti kamu kecewa."
Setelahnya, orangtua dapat mendampingi anak dalam menemukan jalan untuk menenangkan diri serta mengurai persoalan yang dihadapi.
Mengapa Pilihan Kata Orang Tua Penting?
Anak memproses cara mengenali diri, memahami emosi, serta memupuk kepercayaan diri melalui interaksi harian bersama orangtua. Oleh karena itu, pola komunikasi yang dipenuhi empati menjadi salah satu pilar vital dalam pengasuhan.
Bukan berarti orangtua dituntut untuk selalu bertutur kata sempurna. Kekeliruan dalam berkomunikasi merupakan hal yang wajar. Namun, memahami dampak dari tutur kata yang terucap serta berupaya membenahinya akan membantu merajut hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan saling menghargai antara orangtua dan anak.