Psikolog Ungkap Cara Berdamai dengan Kebotakan Pria

Kamis, 06 Agustus 2026 | 02:49:32 WIB
Ilustrasi kebotakan pada pria [FOTO: NET].

JAKARTA - Kebotakan pada pria dapat terjadi akibat berbagai faktor, seperti pengaruh genetik, perubahan hormon, hingga proses penuaan. Bagi sebagian orang, kondisi kehilangan rambut dapat berdampak terhadap rasa percaya diri.

Menurut psikolog, perasaan tersebut merupakan hal yang normal. Untuk membantu menghadapi perubahan penampilan dengan cara yang lebih sehat, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Akui rasa kehilangan yang dirasakan

Psikolog dari University of the West of England sekaligus peneliti Centre for Appearance Research, Dr. Fabio Zucchelli, menjelaskan bahwa standar mengenai penampilan ideal terus mengalami perubahan, termasuk pandangan terhadap penampilan pria.

Menurut dr. Fabio, anggapan bahwa seseorang harus memenuhi standar tertentu agar dianggap menarik merupakan hasil konstruksi sosial. Dalam konteks pria, rambut sering dikaitkan dengan usia muda, daya tarik, serta maskulinitas.

Karena itu, pria yang mengalami kebotakan dapat merasa kehilangan ketika rambut mulai menipis. Dr. Fabio menilai penting bagi seseorang untuk memberikan ruang bagi dirinya sendiri agar dapat beradaptasi dengan perubahan penampilan tersebut.

Bersikap kritis terhadap standar penampilan ideal

Rasa tidak percaya diri akibat kebotakan dapat semakin kuat karena pengaruh media sosial dan iklan yang sering menampilkan rambut lebat sebagai gambaran penampilan ideal.

Asisten profesor psikologi kesehatan dan sosial di University College Dublin, Glen Jankowski, menyebut pentingnya memiliki kemampuan memahami informasi media agar tidak mudah terpengaruh oleh pesan komersial.

Menurutnya, industri perawatan rambut terus berkembang dan kerap menggambarkan kebotakan sebagai kondisi yang harus segera diperbaiki.

"Industri ini berkembang sangat cepat setiap tahunnya," ungkap Glen.

Ia menyarankan masyarakat lebih teliti dalam memahami informasi mengenai produk maupun prosedur penumbuhan rambut, termasuk melihat kemungkinan adanya kepentingan bisnis di balik promosi tersebut.

Alihkan perhatian pada fungsi tubuh, bukan hanya penampilan

Dr. Fabio menyarankan untuk mengubah cara seseorang melihat kondisi tubuhnya. Alih-alih hanya memperhatikan perubahan yang terlihat secara fisik, seseorang dapat mencoba menghargai berbagai fungsi tubuh yang masih berjalan dengan baik.

Cara tersebut dapat membantu membangun pandangan yang lebih positif terhadap tubuh serta mengurangi kebiasaan menilai diri hanya berdasarkan penampilan.

"Jika kita dapat membangun citra tubuh yang lebih positif, hal itu dapat membantu melindungi kita dari sebagian kesulitan akibat kerontokan rambut," tuturnya.

Mencari dukungan dari komunitas dan orang terdekat

Kebotakan terkadang membuat seseorang merasa sendirian dalam menghadapi perubahan tersebut. Padahal, kebotakan berpola merupakan kondisi yang umum dialami banyak pria seiring bertambahnya usia.

Berbagi cerita dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa dapat membantu mengurangi perasaan terasing.

"Bagi sebagian orang, proses penerimaan bisa menjadi lebih cepat jika mereka berbicara dengan orang lain yang berada pada tahap kerontokan rambut yang sama," ujar dr. Fabio dikutip dari BBC Science Focus.

Meski demikian, ia mengingatkan agar memilih komunitas yang memberikan dukungan emosional, bukan hanya kelompok yang berfokus menawarkan produk atau mendorong perbandingan penampilan.

Mencari bantuan profesional jika mulai mengganggu kesehatan mental

Apabila kebotakan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, atau kondisi mental, seseorang dapat mempertimbangkan bantuan dari psikolog.

Dr. Fabio menjelaskan salah satu pendekatan yang dapat membantu adalah Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Terapi ini membantu seseorang menerima pikiran serta emosi yang tidak nyaman tanpa membiarkannya mengendalikan kehidupan.

Ia juga menekankan bahwa proses menerima perubahan penampilan membutuhkan waktu.

"Anda mungkin hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Itu benar-benar normal," sebut dr. Fabio.

Tags

Terkini