JAKARTA — PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) melalui anak perusahaannya, PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), resmi mengalihkan aset properti perhotelan, yakni The Royale Krakatau Hotel, kepada PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dan InJourney.
Pihak manajemen KRAS menerangkan bahwa pemisahan (spin-off) lini aset hotel ini menjadi bagian fundamental dari skema penataan ulang internal Grup Krakatau Steel, sekaligus bentuk penyelarasan komitmen transformasi serta optimalisasi pendayagunaan aset BUMN.
"Melalui pengalihan ini, pengelolaan unit usaha perhotelan akan diintegrasikan secara penuh ke dalam ekosistem PT HIN di bawah naungan Holding Pariwisata dan Pendukung (InJourney)," tulis manajemen KRAS dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (2/7/2026).
- Baca Juga Raih GCG Awards 2026, PNM Layani 23,
Adapun, nilai valuasi dari aksi spin-off The Royale Krakatau Hotel ini menyentuh angka Rp312 miliar, atau merepresentasikan sekitar 2,58% dari total ekuitas perseroan merujuk pada laporan keuangan per 31 Desember 2025.
Sebagai bentuk kompensasi atas penyerahan aset milik PT KSI kepada PT HIN, pihak PT HIN bakal menerbitkan instrumen saham baru Seri C yang nantinya akan diambil alih oleh PT KSI selaras dengan nominal yang telah disepakati bersama.
Langkah pemindahtanganan aset ini pun diproyeksikan mampu menghadirkan efisiensi operasional yang solid, mendongkrak standar mutu pelayanan, sekaligus menjamin bahwa lini akomodasi tersebut dioperasikan oleh korporasi yang memiliki keahlian utama (core expertise) serta jejaring kuat di sektor pariwisata tanah air.
Di sudut lain, manajemen KRAS mengemukakan bahwa transaksi pemisahan ini bakal memberikan keleluasaan strategi yang krusial bagi PT KSI untuk menempuh pemurnian lini bisnis (business purification).
Usai melepaskan portofolio non-inti di sektor perhotelan, PT KSI bakal memfokuskan segenap sumber daya, modal, serta kapabilitas manajemennya untuk mengelola kawasan industri terintegrasi, penyediaan jaringan infrastruktur dasar, serta layanan logistik strategis.
"Fokus yang lebih tajam ini diharapkan dapat memacu akselerasi pertumbuhan performa komersial PT KSI, meningkatkan efisiensi alokasi modal, dan pada akhirnya memperkuat posisi PT KSI sebagai penyedia solusi infrastruktur industri yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia," tulis manajemen KRAS.
Agenda pelepasan portofolio hotel BUMN ini merupakan langkah lanjutan dari instruksi PT Danantara Asset Management (Persero) berkaitan dengan program konsolidasi perhotelan milik negara dan penataan portofolio bisnis, dengan memperhatikan Surat Danantara No. SR.216/DI-DAM/DO/2025 tertanggal 28 November 2025 perihal Pengalihan Operatorship kepada HIN.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan per akhir Maret 2026, KRAS berhasil membukukan laba bersih senilai US$2,58 juta (setara berkisar Rp43,60 miliar, menggunakan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS) sepanjang triwulan I/2026. Capaian positif ini berbalik total dari performa kuartal I/2025 yang sempat terperosok ke pos rugi bersih sebesar US$46,90 juta (berkisar Rp793,61 miliar).
Keberhasilan membalikkan rapor merah menjadi laba bersih ini dipicu oleh pertumbuhan angka pendapatan mencapai 11,76% secara tahunan (year on year/YoY) ke level US$262,36 juta (setara berkisar Rp4,43 triliun).
Perolehan pendapatan tersebut ditopang oleh kontribusi segmen produk baja yang mengantongi US$256,64 juta (berkisar Rp4,34 triliun), segmen sarana infrastruktur senilai US$77,47 juta (berkisar Rp1,31 triliun), serta lini rekayasa dan konstruksi dengan andil sebesar US$3,3 juta (berkisar Rp55,77 miiliar).
Di sisi lain, perseroan juga sukses menekan laju pertumbuhan beban pokok pendapatan yang tercatat cuma naik tipis 1,07% YoY ke posisi US$224,18 juta (berkisar Rp3,79 triliun).
Hasilnya, perolehan laba kotor KRAS melonjak tajam hingga 194,74% secara tahunan menuju angka US$38,18 juta (berkisar Rp645,24 miliar).
Hingga Maret 2026, total aset yang dikuasai perseroan bertengger di angka US$2,91 milar (setara berkisar Rp49,18 triliun) atau terkerek naik 5,23% (*year to date*/YtD).
Secara terperinci, pos liabilitas mengalami pertumbuhan sebesar 6,10% menjadi US$2,16 miliar (berkisar Rp36,50 triliun), sedangkan porsi ekuitas menyentuh angka US$745,67 juta (berkisar Rp12,60 triliun) atau merangkak naik 2,78%.