JAKARTA - Pakar bedah kardiotoraks dr. Jeremy London memaparkan terdapat empat varian tes darah yang krusial untuk dipantau oleh para pria dewasa seiring dengan berjalannya proses penuaan.
“Pria terkenal buruk dalam menindaklanjuti perawatan kesehatan mereka sendiri. Buat janji temu, periksa hasil laboratorium Anda, pahami data Anda. Anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak anda ukur," kata London menurut siaran Hindustan Times, Jumat waktu setempat.
London memberikan perhatian khusus pada sejumlah indikasi klinis, mulai dari kadar kolesterol dan ancaman penyakit kardiovaskular hingga tingkat hormon testosteron, yang sangat penting untuk dievaluasi secara berkala. Di bawah ini merupakan empat macam pemeriksaan darah yang disarankannya untuk terus diawasi.
1. Apolipoprotein B (ApoB) Apolipoprotein B (ApoB) merupakan salah satu indikator darah untuk mengalkulasi total partikel pembawa kolesterol yang berisiko memicu bahaya dan beredar di dalam sistem pembuluh darah.
Berbeda dengan metode pemeriksaan kolesterol konvensional, tes spesifik ini menyajikan evaluasi risiko kardiovaskular secara jauh lebih presisi.
London menguraikan bahwa Apolipoprotein B (ApoB) ialah penanda biologis pada darah yang mengukur kuantitas riil dari partikel pengangkut kolesterol di dalam darah. Hal ini membuatnya menjadi instrumen prediktor yang jauh lebih akurat terhadap ancaman serangan jantung serta stroke jika dibandingkan dengan parameter angka kolesterol biasa.
2. Lipoprotein (a) [Lp(a)] Lipoprotein(a), atau biasa disebut Lp(a), merupakan salah satu parameter risiko bawaan atau herediter yang paling jamak dijumpai pada kasus gangguan kardiovaskular.
Berbeda dengan indikator kolesterol pada umumnya, konsentrasi kadar Lp(a) mayoritas dipengaruhi oleh faktor genetika ketimbang pola makan ataupun aktivitas olahraga, serta memiliki korelasi erat dengan potensi lonjakan kasus stroke dan serangan jantung.
London menyarankan agar kelompok pria maupun wanita melakukan pemeriksaan laboratorium tersebut. Bagi kaum pria, ia menganjurkan untuk mendeteksi hal ini sejak dini karena kelompok pria tidak mempunyai proteksi alami dari efek kardioprotektif yang dimiliki oleh hormon estrogen.
Dokter spesifik bedah jantung itu menggarisbawahi bahwa lipoprotein bertindak sebagai faktor risiko berbasis genetik yang paling umum memicu gangguan kesehatan kardiovaskular. Dengan mengidentifikasi angkanya, seseorang dapat terbantu dalam mengendalikan aspek-aspek yang dapat dikontrol guna mereduksi ancaman stroke dan serangan jantung secara menyeluruh.
3. Testosteron Tahapan berikutnya, ia menjelaskan bahwa volume testosteron bakal merosot secara alamiah sejalan dengan pertambahan usia seseorang, di mana dampaknya tidak melulu berkaitan dengan urusan dorongan seksual atau libido.
Kuantitas testosteron tersebut turut memengaruhi stabilitas stamina, volume massa otot, kondisi psikologis atau suasana hati, serta tingkat vitalitas tubuh secara makro. Dengan mengidentifikasi kadarnya, hal ini dapat membantu dokter menetapkan apakah pasien memerlukan penanganan berupa terapi substitusi atau penggantian testosteron.
4. Antigen Spesifik Prostat (PSA) PSA ialah sejenis senyawa protein yang diproduksi secara langsung oleh organ kelenjar prostat. Dokter bedah jantung itu menjabarkan bahwa dengan mengukur angka kadarnya, hal tersebut bisa membantu mendeteksi indikasi pembesaran prostat, gejala inflamasi atau peradangan, hingga potensi kanker prostat pada tubuh pria, khususnya bagi mereka yang telah menginjak usia di atas 50 tahun.
Seseorang direkomendasikan untuk melakukan sesi konsultasi dengan tim medis terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan untuk menjalani skrining tersebut. PSA sendiri merupakan komponen protein yang diproduksi oleh organ kelenjar prostat yang diperiksa guna mendeteksi gangguan pembesaran prostat, peradangan, ataupun kanker, utamanya pada kelompok pria yang berumur di atas 50 tahun.