Turun 21%, Realisasi Investasi KEK Sentuh Rp32 Triliun di Semester I

Turun 21%, Realisasi Investasi KEK Sentuh Rp32 Triliun di Semester I
Realisasi Investasi KEK Capai Rp32 Triliun pada Semester I/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencatatkan besaran nilai realisasi investasi yang masuk ke seluruh kawasan KEK di wilayah Indonesia berhasil menyentuh angka Rp32 triliun sepanjang kurun waktu semester I/2026. 

Angka perolehan tersebut tercatat mengalami koreksi penurunan sebesar 21% jika dibandingkan dengan capaian realisasi investasi KEK pada periode yang sama tahun lalu atau semester I/2025 yang kala itu berada di kisaran Rp40,48 triliun.

Arus sebaran aliran investasi di dalam kawasan KEK pada paruh pertama tahun ini masih didominasi secara kuat oleh sektor Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencatatkan angka Rp24 triliun, sementara sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) turut memberikan andil kontribusi senilai Rp8 triliun.

Akumulasi realisasi investasi sebesar Rp32 triliun tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pembukaan serta penciptaan sebanyak 34.162 lapangan pekerjaan baru. Secara kumulatif keseluruhan, kawasan KEK kini telah sukses menghimpun total nilai investasi menembus angka Rp368 triliun yang bersumber dari 444 entitas badan usaha serta pelaku bisnis, dengan total akumulasi penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan telah mencapai 283.234 orang.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan pandangannya bahwa upaya membangun dan menciptakan ekosistem iklim investasi yang kondusif menuntut langkah strategis yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar mengandalkan pemanis insentif fiskal semata.

"Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui insentif, tetapi juga melalui kepastian regulasi, penyelesaian hambatan secara cepat, dan komunikasi yang konsisten antara pemerintah dengan dunia usaha," ujar Susi dalam Rakernas KEK Triwulan II/2026 di Jakarta, dikutip dari rilis Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK, Jumat (31/7/2026)

Lebih lanjut, dirinya memaparkan bahwa arah kebijakan strategis KEK kini dipatok untuk difokuskan pada penguatan ekosistem hilirisasi sektor industri serta akselerasi ekonomi digital. Sejumlah proyek berskala raksasa yang turut menjadi sorotan utama mencakup integrasi rangkaian proses produksi 12 juta ton bauksit, 4 juta ton smelter grade alumina (SGA), serta 2 juta ton aluminium ingot per tahun yang berlokasi di KEK Galang Batang. 

Di samping itu, terdapat pula proyek operasional jaringan infrastruktur kabel bawah laut Nongsa-Changi Cable dengan kapasitas mencapai 1,6 petabit per detik guna menopang fasilitas pusat data serta pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menilai bahwa kawasan-kawasan khusus tersebut memegang peranan krusial yang sangat besar dalam mendorong roda transformasi ekonomi nasional secara menyeluruh.

"Capaian strategis periode ini mencakup penguatan hilirisasi industri, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga penyiapan ekosistem energi hijau yang berkelanjutan," jelas Rizal.

Sejumlah realisasi penanaman modal riil yang mulai memasuki tahap eksekusi di antaranya mencakup rencana komitmen investasi senilai US$600 juta dari pihak PT GEABH Joint Technology di KEK Gresik guna mendirikan pabrik melamin terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 120.000 ton per tahun.

Tidak hanya itu, tercatat pula realisasi investasi pada sektor hilirisasi kelapa sawit sebesar US$30 juta yang digarap oleh PT Evyap Sabun Indonesia di KEK Sei Mangkei, serta proyek pembangunan pabrik baru bernilai investasi Rp1,12 triliun oleh PT Hoi Fu di KEK Kendal yang diproyeksikan mampu menyerap sebanyak 1.000 tenaga kerja.

Sementara itu, Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, memberikan peringatan tegas bahwa ke depannya pihak pemerintah bakal mengambil sikap yang jauh lebih disiplin dalam melakukan pengawasan serta evaluasi terhadap pemberian berbagai macam bentuk insentif di tiap-tiap kawasan.

 Nantinya, parameter indikator evaluasi tersebut akan diselaraskan dengan karakteristik tema utama dari masing-masing KEK, contohnya seperti besaran nilai ekspor untuk kategori KEK industri, ataupun tingkat penyerapan tenaga kerja terampil bagi kategori KEK digital.

"Keberhasilan KEK tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta manfaat yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, insentif ke depan akan semakin berbasis pada hasil dan dievaluasi secara disiplin," tutup Budi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index