JAKARTA — Emiten yang terafiliasi dengan grup Djarum, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), mengantongi performa positif pada semester I/2026 dengan membukukan lonjakan pendapatan serta laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, SSIA meraup pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,35 triliun pada semester I/2026, melesat 58,4% secara tahunan (year on year/YoY) bila dibandingkan dengan capaian Rp2,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
VP of Investor Relation dan Corporate Communication SSIA Erlin Budiman menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut utamanya disokong oleh lini bisnis properti yang membukukan kenaikan pendapatan paling tinggi.
Pendapatan lini ini menyentuh Rp1,27 triliun, melonjak 274,1% YoY, berkat dorongan pengakuan penjualan akuntansi lahan industri.
"Pertumbuhan kinerja tersebut, terutama ditopang oleh pengakuan penjualan lahan industri atau accounting sales recognition yang kuat pada bisnis kawasan industri," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Rabu (5/8/2026).
Pencapaian operasional yang kian solid mendorong SSIA mencetak laba bersih mencapai Rp262,6 miliar pada semester I/2026. Lini properti kembali menjadi penggerak utama dengan raihan laba bersih sebesar Rp459,3 miliar, melompat tajam dari angka Rp44,9 miliar pada semester I/2025.
EBITDA konsolidasian tercatat menyentuh Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA di angka 20,7%, jauh melonjak dibandingkan EBITDA Rp106 miliar dengan margin 5% pada semester I/2025.
Kenaikan margin paling signifikan bersumber dari lini properti yang membukukan margin EBITDA 42,9%, naik dari posisi 14,5% pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Di balik melesatnya performa keuangan, pergerakan penjualan lahan industri baru sejatinya mengalami penurunan kecepatan.
Pada semester I/2026, PT Suryacipta Swadaya (SCS), anak usaha SSIA yang mengelola kawasan industri, mencatatkan marketing sales lahan industri seluas 9,4 hektare bernilai Rp195,9 miliar.
Perseroan menerangkan bahwa perlambatan tersebut dipicu oleh meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang membuat sejumlah korporasi global menunda keputusan investasi langsung (foreign direct investment/FDI).
Kendati demikian, pengakuan penjualan akuntansi tetap berada di level tinggi karena bersumber dari transaksi yang telah dibukukan pada periode sebelumnya.
Sepanjang semester I/2026, SSIA mengakui penjualan lahan industri seluas 64,7 hektare senilai Rp1,08 triliun dari proyek Subang Smartpolitan serta Suryacipta City of Industry Karawang.
Hingga penghujung Juni 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat mencapai Rp84,3 miliar, yang mencerminkan penjualan lahan seluas 4,1 hektare.
Di sisi lain, lini konstruksi yang dijalankan melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA) menghimpun pendapatan Rp1,70 triliun, cenderung stabil dibandingkan Rp1,70 triliun pada semester I/2025.
Sementara itu, lini perhotelan turut memperlihatkan tren pemulihan dengan pendapatan menyentuh Rp471,1 miliar, naik 113,3% YoY.
Lini konstruksi juga membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,1% YoY menjadi Rp93,2 miliar. Adapun lini perhotelan masih menanggung rugi bersih sebesar Rp83,8 miliar.
Meski begitu, nilai kerugian tersebut telah menyusut 20,3% dibandingkan rugi bersih Rp105,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu, menandakan berlanjutnya pemulihan pada bisnis perhotelan perseroan.
Dari aspek neraca, posisi kas SSIA pada penutupan semester I/2026 berada di level Rp1,09 triliun, menyusut 4,2% dibandingkan posisi kuartal I/2026 sebesar Rp1,14 triliun.
Penurunan tersebut terutamanya dipengaruhi oleh pembayaran bunga atas proyek renovasi Paradisus by Meliá Bali serta alokasi belanja pengembangan lahan.
Sementara itu, kewajiban utang berbunga perseroan melandai 3,5% menjadi Rp2,27 triliun dari Rp2,35 triliun pada kuartal I/2026. Dengan demikian, rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) membaik ke level 26,8%, yang mengindikasikan kondisi struktur permodalan yang semakin sehat.