BPOM Rayakan 25 Tahun dengan Status WLA, Bukti Keunggulan Regulasi Obat dan Makanan Nasional

Jumat, 30 Januari 2026 | 13:11:39 WIB
BPOM Rayakan 25 Tahun dengan Status WLA, Bukti Keunggulan Regulasi Obat dan Makanan Nasional

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menandai perjalanan 25 tahun pengabdian dengan capaian prestisius. Lembaga ini resmi menjadi WHO Listed Authority (WLA), menjadikannya national regulatory authority (NRA) pertama dari negara berkembang yang masuk daftar otoritas rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pengakuan Internasional dan Prestasi BPOM

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam pernyataan di Jakarta pada Jumat, menyampaikan bahwa pencapaian ini menegaskan posisi BPOM di level global. Status ini membuat BPOM sejajar dengan otoritas pengawas obat dan makanan di sejumlah negara maju.

"Salah satu hadiah terindah pada hari ulang tahun kali ini adalah BPOM telah sejajar dengan NRA negara maju dan secara resmi menjadi WHO Listed Authority. BPOM menjadi NRA negara berkembang pertama di dalam WLA," ujar Taruna Ikrar.

Prestasi ini merupakan refleksi dari perjalanan panjang BPOM menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, capaian ini menandai meningkatnya ekspektasi publik terhadap pengawasan obat dan makanan melalui kolaborasi lintas sektor.

Dengan status WLA, BPOM diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik. Hal ini juga menjadi bukti bahwa regulasi obat dan makanan di Indonesia kini diakui secara internasional.

Sinergi Nasional dalam Riset dan Inovasi Obat

Sebagai bagian dari penguatan kerja sama, Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menandatangani nota kesepahaman. Penandatanganan dilakukan di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026, dan bertujuan memperkuat sinergi pengawasan obat dan makanan dengan pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut pertemuan kedua pimpinan lembaga. Fokusnya diarahkan untuk memperkuat riset, inovasi, serta kemandirian nasional di sektor obat-obatan.

Menteri Brian menekankan Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi dengan sekitar 300 ribu dosen. Lebih dari 12 ribu profesor yang tersebar di berbagai bidang menjadi aset strategis bagi kolaborasi nasional.

Melalui sinergi ini, diharapkan BPOM dan perguruan tinggi dapat bersama-sama menghasilkan inovasi obat yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat. Kolaborasi ini juga membuka peluang riset terapan yang berdampak langsung pada kualitas pengawasan obat dan makanan.

BPOM Award Sebagai Apresiasi Mitra Strategis

Menutup rangkaian peringatan usia perak, BPOM memberikan BPOM Award kepada para mitra dari akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dukungan dan sinergi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Para penerima BPOM Award dinilai berperan penting dalam mengawal amanah pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia. Hal ini mencerminkan bahwa kesuksesan BPOM tidak hanya berasal dari internal lembaga, tetapi juga dari kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Penghargaan ini sekaligus mendorong semua pihak untuk terus mendukung regulasi yang transparan dan profesional. Dengan demikian, keamanan dan kualitas obat serta makanan bagi masyarakat dapat terjaga dengan lebih baik.

Pencapaian BPOM sebagai WLA membuka peluang untuk memperluas kerja sama internasional. Status ini memungkinkan lembaga belajar dari praktik terbaik global dan menerapkan inovasi pengawasan yang lebih efektif di Indonesia.

BPOM kini memiliki kapasitas lebih untuk menilai kualitas obat dan makanan secara internasional. Kepercayaan global terhadap BPOM menjadi modal penting untuk menguatkan posisi Indonesia dalam perdagangan dan regulasi farmasi global.

Melalui peringatan 25 tahun, BPOM menunjukkan bahwa lembaga pemerintah dapat berkembang dari sekadar regulator domestik menjadi otoritas yang diakui dunia. Transformasi ini menjadi contoh bagi lembaga negara lain dalam meningkatkan kapasitas dan integritas.

Selain itu, kerja sama dengan pendidikan tinggi membuka peluang pengembangan sumber daya manusia. Para peneliti, dosen, dan mahasiswa kini dapat langsung berkontribusi pada pengawasan dan riset obat yang memiliki standar global.

BPOM juga berfokus pada inovasi teknologi untuk mempermudah pengawasan. Digitalisasi data, sistem pengujian mutakhir, dan pemantauan berbasis AI menjadi bagian dari strategi modernisasi lembaga.

Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu mempercepat adopsi inovasi medis dan makanan. Hal ini tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas.

Dengan capaian ini, Indonesia membuktikan bahwa negara berkembang bisa memiliki otoritas regulasi setara negara maju. Prestasi ini juga menunjukkan komitmen BPOM untuk melindungi kesehatan publik dengan standar internasional.

BPOM berencana terus memperkuat kapasitas laboratorium dan SDM. Tujuannya adalah memastikan seluruh produk obat dan makanan yang beredar di pasar aman dan sesuai standar.

Peringatan 25 tahun sekaligus menjadi momentum evaluasi dan pembelajaran. BPOM menegaskan pentingnya menjaga integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap langkah pengawasan.

Selain itu, BPOM berkomitmen meningkatkan komunikasi publik. Edukasi tentang keamanan obat dan makanan menjadi bagian penting dari strategi meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Status WLA juga mendorong BPOM untuk aktif berpartisipasi dalam forum internasional. Hal ini membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengembangan regulasi yang lebih inovatif.

Ke depan, BPOM diharapkan menjadi contoh keberhasilan pengawasan obat dan makanan di negara berkembang. Sinergi dengan akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam pencapaian tujuan tersebut.

Dengan semua capaian ini, BPOM menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan bukan sekadar regulasi, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Prestasi WLA menjadi bukti nyata perjalanan 25 tahun pengabdian yang berkelanjutan.

Terkini