JAKARTA - Komitmen Indonesia dalam memperkuat pariwisata kawasan kembali ditegaskan melalui peran aktif di tingkat regional. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata mendukung pelaksanaan ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026 dengan mengadopsi ASEAN Tourism Sectoral Plan (ATSP) 2026–2030.
Langkah ini dilakukan untuk mendorong kemajuan pariwisata ASEAN yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global. Indonesia memandang kerja sama regional sebagai fondasi penting menghadapi tantangan industri pariwisata ke depan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa kawasan ASEAN memiliki peran strategis bagi Indonesia. Menurutnya, ASEAN bukan hanya pasar terdekat, tetapi juga pusat pertumbuhan pariwisata yang dinamis.
“ASEAN bukan hanya pasar terdekat Indonesia, tetapi juga jantung pertumbuhan pariwisata yang mendorong kunjungan berulang, menghadirkan pengalaman baru, serta membuka peluang bersama bagi kawasan," kata Widiyanti.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks penguatan kolaborasi antarnegara ASEAN. Kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi seluruh negara anggota.
ATSP 2026–2030 Sebagai Peta Jalan Pariwisata Kawasan
Dalam Opening Ceremony ATF 2026 yang berlangsung pada Rabu, 28 Januari 2026, di Cebu, Filipina, Widiyanti menjelaskan posisi strategis ATSP 2026–2030. Dokumen ini dihadirkan sebagai panduan pembangunan pariwisata regional ASEAN.
ATSP dirancang untuk menjawab tantangan industri pariwisata yang terus berkembang. Fokus utamanya adalah memperkuat daya saing kawasan di tingkat global.
Peta jalan tersebut menitikberatkan pada upaya memperkaya pengalaman wisatawan. Selain itu, ATSP juga mendorong pemberdayaan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar.
Widiyanti menilai penguatan pelaku usaha lokal menjadi kunci keberhasilan pariwisata berkelanjutan. Dengan keterlibatan semua pihak, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata.
ATSP 2026–2030 juga diarahkan untuk memperkuat posisi ASEAN sebagai destinasi wisata dunia. Kawasan ini diharapkan mampu menawarkan pengalaman yang beragam dan berkualitas tinggi.
Widiyanti meyakini kerja sama yang erat antarnegara ASEAN akan membawa dampak positif jangka panjang. Kolaborasi regional dinilai mampu menciptakan sistem pariwisata yang lebih tangguh.
“Mari kita terus bekerja sama untuk membangun masa depan pariwisata ASEAN yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Widiyanti.
Ajakan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas ASEAN. Integrasi kawasan dipandang sebagai kekuatan utama dalam menghadapi persaingan global.
Komitmen ASEAN terhadap Pariwisata Inklusif dan Berkelanjutan
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata Filipina Christina Garcia Frasco membacakan pidato Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. Pesan tersebut menyoroti pentingnya pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Presiden Marcos menekankan bahwa sektor pariwisata memiliki peran strategis sebagai penggerak peluang ekonomi. Pariwisata dinilai mampu membuka akses kesejahteraan bagi masyarakat luas.
“Ketika pariwisata bersifat inklusif, ia menjadi pemberdaya. Ketika kebijakan dijalankan dengan kehati-hatian, ia menjadi berkelanjutan,” kata Presiden Marcos.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pariwisata tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Aspek sosial dan lingkungan juga menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata.
Pesan Presiden Filipina tersebut sejalan dengan semangat ATSP 2026–2030. Dokumen ini menjadi tonggak utama dalam pelaksanaan ATF 2026.
ATSP 2026–2030 mencerminkan arah pembangunan kawasan yang inklusif. Fokusnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan kesejahteraan rakyat.
Selain itu, ATSP juga menekankan pentingnya pembangunan yang ramah lingkungan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan destinasi wisata di kawasan ASEAN.
ASEAN memandang pariwisata sebagai sektor strategis yang harus dikelola dengan hati-hati. Pendekatan berkelanjutan menjadi kunci menjaga daya tarik jangka panjang.
Lima Pilar Penguatan Pariwisata ASEAN
Filipina membuka ATF 2026 dengan tema “Navigating Our Tourism Future, Together”. Tema ini mengajak seluruh negara anggota dan mitra untuk bergerak bersama.
Tema tersebut menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi masa depan pariwisata. Seluruh negara ASEAN didorong untuk menyatukan langkah dan visi.
Pengembangan pariwisata kawasan mengacu pada lima pilar utama ATSP 2026–2030. Pilar-pilar ini menjadi kerangka kerja bersama bagi negara anggota.
Pilar pertama adalah pariwisata tangguh atau resilient tourism. Pilar ini menekankan kesiapan kawasan menghadapi krisis dan perubahan global.
Pilar kedua adalah pemberdayaan tenaga kerja pariwisata. Fokusnya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Pilar ketiga mencakup perjalanan yang mudah diakses dan tanpa hambatan. Aksesibilitas dan konektivitas menjadi perhatian utama dalam pengembangan pariwisata.
Pilar keempat adalah pariwisata digital, diversifikasi produk, dan pasar. Transformasi digital dipandang sebagai kebutuhan mendesak di era modern.
Pilar kelima adalah pariwisata berkelanjutan. Pilar ini memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak merusak lingkungan dan budaya lokal.
Kelima pilar tersebut dirancang saling melengkapi. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang kuat dan adaptif.
Indonesia menyambut baik penerapan lima pilar ATSP tersebut. Pemerintah melihat peluang besar untuk memperkuat posisi pariwisata nasional di kawasan.
Keterlibatan aktif Indonesia di ATF 2026 menunjukkan komitmen terhadap kerja sama regional. Indonesia ingin menjadi bagian penting dari transformasi pariwisata ASEAN.
Melalui adopsi ATSP 2026–2030, Indonesia berharap dapat mendorong pertumbuhan pariwisata yang merata. Pembangunan diharapkan tidak hanya terpusat di destinasi tertentu.
Kolaborasi antarnegara ASEAN juga membuka peluang promosi bersama. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menarik wisatawan global.
Pariwisata ASEAN diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi kawasan. Sinergi kebijakan menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
ATF 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan kerja sama regional. Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan pariwisata dari berbagai negara.
Indonesia berkomitmen terus berperan aktif dalam forum-forum pariwisata ASEAN. Partisipasi ini diharapkan membawa manfaat nyata bagi industri pariwisata nasional.
Dengan mengedepankan prinsip inklusif dan berkelanjutan, pariwisata ASEAN diarahkan menuju masa depan yang lebih baik. Indonesia melihat peluang besar dalam visi bersama ini.
Langkah-langkah strategis yang diambil melalui ATSP 2026–2030 menjadi fondasi penting. Fondasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing kawasan di tingkat global.
Melalui kerja sama yang solid, ASEAN diyakini mampu menghadapi tantangan pariwisata global. Masa depan pariwisata kawasan dibangun melalui kolaborasi dan kepercayaan bersama.