JAKARTA — Entitas tambang batu bara dari Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada semester I/2026 dengan perolehan laba bersih yang melejit 188% secara tahunan.
Mengacu pada laporan keuangan per akhir Juni 2026, BUMI meraup laba bersih entitas induk sebesar US$58,9 juta atau sekitar Rp1,05 triliun (dengan mengacu kurs JISDOR per 30 Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS) pada semester I/2026.
Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources Renno Wicaksono mengutarakan bahwa pencapaian tersebut sebagian mencerminkan kontribusi laba tambahan dari aset perseroan di Australia.
“Hal ini sebagian mencerminkan kontribusi laba tambahan dari aset perseroan di Australia, yang belum menjadi bagian dari bisnis pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (4/8/2026).
Adapun, melesatnya bottom line perseroan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang merambat naik 27,9% year on year (YoY) menjadi US$866,8 juta disandingkan semester I/2025 yang senilai US$677,9 juta.
Seiring naiknya top line, beban pokok pendapatan BUMI turut meningkat 26,3% YoY menjadi US$720,8 juta. Meskipun begitu, laba bruto perseroan tetap tumbuh 36,3% YoY menjadi US$145,9 juta dari posisi terdahulu sebesar US$107,0 juta.
Laba sebelum pajak perseroan juga melipat ganda hingga 102,5% YoY menjadi US$104,3 juta pada paruh pertama 2026. Perolehan tersebut disokong oleh marjin usaha yang melebar menuju level 9,6% dari sebelumnya 8,2% pada semester I/2025.
Manajemen BUMI menguraikan bahwa kinerja solid tersebut dipacu oleh kombinasi pertumbuhan volume produksi, penguatan efisiensi penambangan, serta perbaikan average selling price (ASP) batu bara sepanjang paruh pertama 2026.
Melihat dari aspek operasional, BUMI membukukan volume produksi batu bara sebesar 38,5 juta ton pada semester I/2026. Angka ini melaju 7,1% secara tahunan jika dibandingkan dengan 35,9 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan dinamika tersebut, volume penjualan batu bara merangkak naik 11,7% YoY menjadi 38,8 juta ton. Tingginya angka penjualan melebihi volume produksi ikut memangkas cadangan posisi persediaan batu bara menjadi 1,7 juta ton per akhir Juni 2026.
Sementara itu, harga jual rata-rata (FOB) batu bara BUMI mencatatkan pemulihan sebesar 2,6% secara tahunan menjadi US$62,9 per ton dari posisi 61,3 dolar AS per ton pada semester I/2025. Perseroan turut membukukan efisiensi rasio kupasan tanah (strip ratio) yang membaik menuju 7,5x dari semula 8,1x.
Capaian realisasi penjualan sebanyak 38,8 juta ton pada semester I/2026 pun dinilai masih berada di lintasan yang tepat untuk memenuhi target tahunan perseroan.
Untuk sepanjang tahun 2026, BUMI mempertahan kan panduan volume penjualan pada rentang 82 juta hingga 84 juta ton disertai proyeksi harga rata-rata US$60—US$62 per ton dan biaya produksi berkisar US$42—US$44 per ton.
Di samping itu, perseroan menegaskan bakal terus memacu strategi diversifikasi ke sektor pertambangan non-batu bara, mencakup integrasi aset tembaga dan emas di Australia lewat Wolfram Limited dan Jubilee Metals Limited demi memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang.