IHSG Belum Terangkat Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,29%

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:36:31 WIB
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor masih menerapkan strategi selektif meskipun ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/YoY), atau berada di atas perkiraan pasar.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyebutkan sikap hati-hati investor terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih banyak ditopang saham-saham spekulatif. Sementara itu, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

"IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII," ujar Rully dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan data pertumbuhan ekonomi sebagai pendorong utama investasi. Hal itu terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham dengan fundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI, meskipun pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia melampaui ekspektasi pasar.

Ia menjelaskan, investor saat ini tidak hanya melihat besaran pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kualitas serta keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut.

Selama aliran dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum mencatat penguatan secara merata, investor diperkirakan masih akan bersikap selektif.

Rully juga menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental domestik.

Menurutnya, penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi pemerintah Jepang dan Amerika Serikat (AS) menekan dolar AS sehingga turut menopang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 memang masih menunjukkan kinerja positif, tetapi kualitas pertumbuhannya tetap perlu diperhatikan karena didukung stimulus fiskal, rendahnya basis belanja pemerintah, serta faktor musiman.

Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 16% YoY, sedangkan konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan menjadi 5,1% YoY. Di sisi lain, ekspor neto justru memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8 poin persentase karena pertumbuhan impor lebih tinggi.

Novani memperkirakan normalisasi belanja pemerintah pada semester II/2026 serta kontribusi ekspor yang masih terbatas berpotensi mengurangi momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2026.

Dengan kondisi tersebut, Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 berpeluang melambat di bawah 5% YoY apabila tidak didukung peningkatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih kuat.

Tags

Terkini

IHSG Belum Terangkat Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,29%

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:36:31 WIB

BRI Siap Salurkan Kredit Sektor Riil Menggunakan Dana SAL

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:31:31 WIB

KRL Green Line Makin Ramai, Citeras Jadi Pusat Baru

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:30:01 WIB