JAKARTA — PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) sukses membalikkan capaian kinerja keuangan ke zona positif pada semester I/2026. BUMN farmasi tersebut mengantongi laba bersih unaudited sebesar Rp54,07 miliar, berbalik dari kondisi rugi bersih Rp135,61 miliar pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan semester I/2026, Kimia Farma membukukan penjualan neto senilai Rp4,70 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan semester I/2025 yang mencapai Rp4,36 triliun.
Ditinjau dari ranah operasional, Perseroan mencatatkan lonjakan laba usaha hingga 111,3% menjadi Rp152,21 miliar, berbanding Rp72,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam mengatakan perbaikan kinerja ini menjadi sinyal positif atas transformasi bisnis yang tengah dijalankan.
Menurutnya dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola.
"Kinerja positif pada Semester I/2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).
Peningkatan profitabilitas Kimia Farma tidak semata ditopang oleh pertumbuhan angka penjualan, melainkan bersumber pula dari keberhasilan Perseroan menggenjot efisiensi operasional.
Hal tersebut terefleksikan dari rasio beban usaha terhadap penjualan yang melandai ke angka 33,2% pada semester I/2026, dari posisi 34,2% pada semester I/2025.
Kendati mencatatkan pemulihan performa, Perseroan mengakui tantangan eksternal masih membayangi sepanjang kuartal II/2026.
Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memicu kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian masih menggantungkan pasokan impor. Situasi ini memberikan tekanan terhadap biaya produksi dan ekosistem rantai pasok industri farmasi nasional.
Guna meredam risiko tersebut, Kimia Farma menerapkan bermacam langkah mitigasi, mulai dari kelanjutan efisiensi, pengetatan pengendalian biaya, hingga penyesuaian harga secara selektif pada deretan produk tertentu.
Djagad melanjutkan, sejalan dengan kondisi bisnis yang semakin sehat memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk mendukung ketersediaan obat nasional, peningkatan layanan kesehatan, serta berbagai program prioritas pemerintah.
KAEF Optimalkan Bahan Baku Obat
Perseroan bakal mengoptimalkan fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran selaku tulang punggung manufaktur bagi sekitar 50 produk utama, termasuk jajaran obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.
Langkah ini ditempuh demi mendukung kemandirian industri farmasi nasional, khususnya pada sektor bahan baku obat (BBO).
Di sektor hulu, Kimia Farma memperkokoh peran dua entitas strategisnya, yaitu Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) dalam pengembangan bahan baku obat lokal.
Saat ini, KFSP telah memiliki 19 bahan baku obat yang mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, dengan 18 di antaranya telah memperoleh sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Perseroan juga akan mendorong lokalisasi sejumlah produk prioritas yang selama ini masih bergantung pada impor.
Penguatan sektor hulu turut didukung oleh jaringan layanan kesehatan Kimia Farma yang luas dan terintegrasi di sektor hilir. Hingga Juni 2026, Kimia Farma mengoperasikan lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik, dan lebih dari 60 laboratorium yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pada paruh kedua tahun ini, perseroan menargetkan perbaikan kinerja yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap sistem kesehatan nasional.
“Fokus kami tetap pada penguatan bisnis yang sehat, ketersediaan obat, peningkatan layanan kesehatan, serta dukungan terhadap program prioritas nasional,” ujarnya.