Rupiah Menguat ke Rp17.923, Pasar Pantau Selat Hormuz dan MSCI

Rupiah Menguat ke Rp17.923, Pasar Pantau Selat Hormuz dan MSCI
rupiah terhadap dollar AS [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada pasar spot berakhir terangkat pada sesi perdagangan Kamis (6/8/2026). Mata uang Garuda menguat 10 poin atau 0,06 persen menuju posisi Rp17.923 per dolar Amerika Serikat (AS).

Walau ditutup naik bila disandingkan dengan hari sebelumnya, posisi rupiah sebenarnya berada di bawah level saat pembukaan transaksi. 

Rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.905 per dolar AS atau naik 0,11 persen di awal sesi. Meskipun demikian, angka tersebut kian menjauhi ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memaparkan, sentimen global berbalik membaik seusai Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan bersama Oman seputar koordinat usulan rute pelayaran melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan perlintasan strategis yang mengampu kira-kira seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. 

Walau begitu, para pelaku pasar tetap bersikap waspada. Kesepakatan ini tak serta-merta menandakan Selat Hormuz bakal kembali diakses penuh.

“Negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, serta pengaturan keamanan yang lebih luas masih berlangsung dan belum mencapai titik temu,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Kamis sore.

Kabar lain datang dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menyampaikan pada rapat umum di Las Vegas, Rabu (5/8/2026), bahwasanya Washington sedang menjalin komunikasi dengan Teheran dan akan “melihat perkembangannya” dalam proses perundingan yang tengah berjalan.

Pihak Iran menampik adanya diskusi damai bersama Amerika Serikat. Walau demikian, gambaran meningkatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz membantu menyurutkan ketakutan pasar seputar gangguan pasokan energi yang sempat memicu lonjakan harga minyak.

Melandainya harga energi turut memicu para pelaku pasar memangkas proyeksi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed). Peluang penyesuaian suku bunga pada September kini diproyeksikan berkisar 55 persen, susut dari angka 67 persen pada dua hari sebelumnya.

Fokus para pemodal kini berganti ke data pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Laporan ADP National Employment memperlihatkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta mengalami perlambatan pada Juli. Pasar pun tengah menunggu rilis data nonfarm payrolls pada Jumat.

Dari ranah domestik, Ibrahim menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen secara tahunan menjadi katalis positif untuk bursa.

Walau terhitung lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026, capaian ini berada di atas ekspektasi pasar. Kinerja ekonomi semester I 2026 pun berhasil menembus 5,45 persen.

Para pelaku bursa juga menantikan hasil peninjauan indeks MSCI serta pengumuman FTSE Russell pada 10 hingga 14 Agustus 2026. Status pembekuan Indonesia diperkirakan menjadi salah satu pendorong vital pergerakan pasar saham dalam kurun dekat.

Kendati Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeksekusi beragam pembenahan pasar modal, Ibrahim menganggap langkah tersebut belum tentu serta-merta mengubah pendirian FTSE Russell maupun MSCI.

MSCI diprediksi baru akan memaparkan evaluasi susulan atas pembenahan pasar modal Indonesia mendekati akhir Oktober 2026. 

Selain itu, MSCI bakal merilis hasil evaluasi indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia. Perubahan tersebut mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.

Menurut Ibrahim, arah kebijakan dari penyedia indeks dunia masih sukar ditebak dan berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham.

Besarnya imbas penyedia indeks global ini tecermin dari masifnya dana pasif yang mereka kelola. Aset kelolaan pasif indeks MSCI menembus sekitar 5 miliar dolar AS atau setara Rp89,98 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.995 per dolar AS). 

Angka tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan FTSE Russell yang mencatat aset kelolaan pasif sekitar 1,5 miliar dolar AS hingga 2 miliar dolar AS, atau setara Rp26,99 triliun hingga Rp35,99 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index