LANSKAPBERITA.COM — Harga Bitcoin bertengger di kisaran US$76.442 setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya. Bagi investor pemula yang ingin masuk di harga tinggi, perencana keuangan mengingatkan agar tidak menebak waktu pasar dan mulai membeli secara bertahap.
Harga Bitcoin kembali menguat setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya. Penguatan aset kripto terbesar itu langsung jadi perhatian investor di tengah volatilitas yang tinggi dan sensitif terhadap kebijakan moneter global.
Pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.442, naik 1,05 persen dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasarnya tercatat sekitar US$1,53 triliun dengan volume perdagangan 24 jam mencapai US$30,34 miliar.
Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC. Kondisi itu memunculkan pertanyaan: apakah investor pemula masih punya ruang masuk, atau sebaiknya menunggu harga terkoreksi?
Jangan Tebak Waktu Pasar
Perencana Keuangan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Aidil Akbar Madjid menilai investor pemula masih bisa mulai berinvestasi di Bitcoin meski harganya sudah naik. Namun ia mengingatkan agar mereka tidak mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar.
"Masih bisa masuk, tapi untuk pemula jangan timing the market, masalahnya kita tidak tahu kapan koreksi akan terjadi. Masuk secara bertahap saja, dan jangan FOMO," ujar Aidil kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/9).
Aidil menyarankan metode dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara bertahap dalam jumlah tertentu dan periode yang sudah ditentukan. Menurutnya, pemula sebaiknya fokus pada kripto besar, terutama Bitcoin.
"Untuk pemula selalu pilih DCA atau DCA plus tambahan cadangan, karena untuk kripto ketika jatuh bisa sampai lebih dari 70 persen dari posisi all time high mereka sebelumnya," katanya.
Risiko Drawdown dan Porsi Portofolio
Kemampuan menghadapi penurunan harga harus dihitung sejak awal. Aidil menyebut FOMO sebagai musuh nomor satu bagi pemula di kripto, baik secara finansial maupun psikologis.
Ia memberi ilustrasi, bila alokasi Bitcoin hanya 5 persen dari total portofolio dan harganya turun 70 persen, dampak ke keseluruhan portofolio sekitar 3,5 persen dengan asumsi aset lain tidak berubah. "Besaran eksposur Bitcoin atau kripto berbanding total portofolio," jelasnya.
Karena itu, Aidil menyarankan investor memakai uang dingin, yakni dana yang siap menanggung risiko kerugian dan tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Fondasi Keuangan Wajib Beres
Sebelum masuk aset kripto, kondisi keuangan pribadi harus dipastikan sehat. Arus kas tidak minus, dana darurat mencukupi, dan tidak ada utang konsumtif berbunga tinggi.
Besaran dana darurat disesuaikan dengan kondisi keluarga. Investor lajang tanpa tanggungan idealnya punya dana darurat tiga bulan kebutuhan, satu tanggungan enam bulan, dan dua tanggungan atau lebih hingga 12 bulan.
"Secara perencana keuangan sudah aman dulu, cashflow sehat dan tidak minus, emergency fund sudah terpenuhi, utang konsumtif sudah lunas dulu terutama yang berbunga tinggi," ujar Aidil.
Sesuaikan dengan Profil Risiko
Kripto merupakan instrumen bervolatilitas sangat tinggi, bahkan bisa melampaui saham. Investor yang ingin masuk perlu memiliki profil risiko agresif dan tujuan investasi yang jelas.
Setelah fondasi keuangan terpenuhi, porsi aset kripto bisa ditentukan. Aidil menyebut investor konservatif bisa mengalokasikan hingga 3 persen dari total portofolio, moderat hingga 5 persen, dan agresif hingga 10 persen.
Kesiapan mental juga tak kalah penting karena harga aset kripto bisa bergerak tajam dalam waktu singkat.