LANSKAPBERITA.COM — Kenaikan harga solar ritel di Amerika Serikat sebesar 31% sejak 5 Juli hingga 17 September menekan margin perusahaan angkutan truk. J.B. Hunt memperingatkan laba kuartal ketiga tergerus 5% hingga 10% akibat lonjakan biaya bahan bakar dan pengemudi.
Peringatan tersebut muncul setelah harga solar ritel di AS melonjak sekitar 31% dari 5 Juli hingga 17 September. Harga solar grosir naik lebih dari dua kali lipat laju itu pada periode yang sama.
Spread Ritel-Grosir Menyempit 48%
Data SONAR menunjukkan spread antara harga solar ritel dan grosir menyempit sekitar 48% selama periode tersebut. Kondisi ini memukul operator besar yang membeli bahan bakar di tingkat grosir.
Armada besar umumnya punya daya tawar untuk mendapat harga bahan bakar di bawah harga ritel. Namun diskon itu sebenarnya merupakan premi terhadap harga grosir, atau yang lazim disebut harga rack, sekitar rack plus 2%.
Artinya, ketika harga rack berada di posisi 3,89 dolar AS per galon, tarif yang dibayar operator menjadi 3,97 dolar AS. Selisih inilah yang tergerus saat harga grosir melonjak lebih cepat dari ritel.
Surcharge Bahan Bakar Jadi Penyangga Terbatas
Sebagian besar operator membebankan sebagian biaya bahan bakar ke pelanggan melalui fuel surcharge. Karena surcharge dihitung berbasis harga ritel, operator punya bantalan saat biaya bahan bakar berfluktuasi.
Besarnya bantalan bergantung pada tingkat persaingan harga dan stabilitas biaya bahan bakar. Ketika pasar kompetitif dan harga stabil, operator cenderung menurunkan tarif dasar sehingga lebih rentan terhadap gejolak harga solar.
Sebaliknya, saat pasar ketat, operator bisa menaikkan tarif dasar dan mengurangi eksposur jangka panjang terhadap fluktuasi harga bahan bakar.
Kontrak Jangka Panjang Perparah Eksposur
Masalah inti yang dihadapi J.B. Hunt terletak pada bisnis dedicated dan intermodal. Tarif di kedua segmen itu dinegosiasikan untuk jangka panjang dan tidak di