Rupiah Menguat ke Rp17.923 per Dolar AS, Pasar Tunggu Cadev dan NFP

Rupiah Menguat ke Rp17.923 per Dolar AS, Pasar Tunggu Cadev dan NFP
mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan Kamis (6/8/2026) dengan penguatan tipis di tengah keterbatasan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Laju penguatan mata uang Garuda masih terbilang terbatas lantaran para pelaku pasar memilih mengambil posisi wait and see menjelang peluncuran beberapa data krusial.

Merujuk pada data analisis Doo Financial Futures, rupiah mengakhiri sesi dengan kenaikan 0,06% ke posisi Rp17.923 per dolar AS saat penutupan perdagangan.

Arah pergerakan rupiah turut selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang sama-sama terangkat di hadapan dolar AS. 

Baht Thailand berada di posisi terdepan penguatan terhadap dolar AS lewat apresiasi 0,21%, mengekor dolar Taiwan sejumlah 0,18%, ringgit Malaysia 0,09%, serta rupiah 0,07%.

Di lain sisi, sebagian mata uang Asia terpantau masih tertekan oleh dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan koreksi paling tajam usai susut 0,47%, menyusul dolar Singapura, peso Filipina, dan rupee India yang masing-masing melorot 0,09%, serta yuan China yang terkikis tipis 0,03%.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan, apresiasi rupiah didorong oleh melandainya kecemasan pasar energi dunia seusai mencuat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz yang memicu penurunan harga minyak mentah global.

Di waktu yang bersamaan, sambungnya, data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II/2026 yang tergolong kuat ikut memberikan angin segar bagi aset-aset dalam negeri.

"Rupiah ditutup menguat tipis di level 17.918 per dolar AS didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan data PDB kuartal II/2026 Indonesia yang solid," ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Walau demikian, penguatan mata uang Garuda tetap relatif terbatas lantaran pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menyongsong rilis sejumlah data ekonomi domestik terkait cadangan devisa serta data global non farm payrolls (NFP) Amerika Serikat.

Para pemodal kini tengah menanti pengumuman cadangan devisa (cadev) Indonesia yang sanggup memberikan proyeksi seputar daya tahan eksternal negara.

Dari ranah global, sorotan bursa turut tertuju pada data non farm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang bakal dipublikasikan pada Jumat waktu setempat. 

Data pasar tenaga kerja tersebut diprediksi menjadi salah satu pedoman utama pasar dalam memetakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depannya.

Guna perdagangan selanjutnya, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS, dengan kecenderungan arah masih dibayangi dinamika data ekonomi dalam negeri serta indikator ketenagakerjaan AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index